Menulis cerita pendek adalah salah satu hal favoritku di dunia ini.
Bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Nggak butuh waktu banyak.
Tentunya bikin hati senang, kecuali cerita yang ditulis sedih atau hasil
curcol.
Cerita pendek menurut salah satu definisi yang kuingat adalah tulisan
yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik narasi sejumlah
1000-10.000 kata. Bagiku pribadi, aku setuju dengan 1000 kata, tapi
10.000 itu terlalu banyak (kecuali bacanya dalam bentuk hardcopy atau
ebook reader, macam Kindle). Dalam membuat cerpen aku sendiri membatasi
jumlah kata yang kugunakan hanya sebanyak 1000-2500 kata atau sekitar
3-8 halaman A4 dengan font TNR 12 spasi 1. Sebenarnya banyak halaman ini
juga bakal tergantung dari format ceritamu, penuh dialog atau padat
deskripsi.
Jumlah kata yang kugunakan tersebut, menurut pengamatanku yang sering jadi
silent reader
di web fanfiksi atau blog orang, itu ideal untuk tipe cerpen yang
ditampilkan di blog atau web. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen
dengan jumlah kata sebanyak itu sekitar 5-20 menit. Kalau lebih naskah
lebih banyak dari itu mendingan dipecah menjadi dua post bersambung atau
pengunjung blog keburu jenuh membacanya.
Banyak penulis novel bilang, menulis cerpen nggak mudah. Sama banyaknya
dengan penulis cerpen yang bilang, menulis novel itu sulit. Tantangan
menulis kedua jenis tulisan tersebut memang berbeda jauh. Meskipun dasar
pembuatannya hampir mirip. Menulis cerpen juga membutuhkan dasar-dasar
yang sama dengan penulisan novel. Dibutuhkan karakter, plot, alur, latar
cerita, dan konflik. Perbedaan paling mencolok adalah novel
menceritakan sebagian hidup dari karakter, sementara cerpen menceritakan
satu kejadian penting yang dialami si tokoh.
Satu kejadian penting, ini adalah kunci utama membuat cerpen. Fokus
ketika membuat cerpen hanya diperlukan di sekitar kejadian itu. Tahu
seluruh sejarah hidup tokoh dan seantero kota tempat cerita ditulis itu
tidak mutlak diperlukan dalam menulis cerpen (bahkan kadang nggak perlu
sama sekali!). Menulis cerita pendek seperti kamu sedang duduk di sebuah
halte bus dan melihat sepasang kekasih bertengkar. Hingga akhirnya
busmu datang dan cerita itu selesailah. Di situ nggak perlu dijelaskan
apa bus yang kamu tunggu, tapi pusatkan cerita yang ditulis kepada
pasangan tersebut. Siapa nama pasangan tersebut? Mengapa mereka
bertengkar? Pakaian apa yang mereka pakai saat itu? Apa si pria menampar
atau malah memeluk? Bagaimana ekspresi si perempuan ketika mengeluarkan
semua uneg-unegnya kepada si pria? Apa saja omongan yang keluar dari
mulut mereka berdua?
Dan kamu dapat satu ide yang bisa kamu kembangkan menjadi cerita pendek: pasangan yang bertengkar karena kesibukan (misalnya).
Setelah mendapat ide, fokuslah kepada konflik. Di mana puncak konflik
pasangan tersebut? Apakah ternyata si perempuan ikut naik bus
bersamamu?
Puncak konflik ini bisa menjadi klimaks sebuah cerpen. Letaknya bisa
di awal, tengah, atau akhir cerita—suka-suka penulis aja. Puncak konflik
ini juga sering menjadi titik balik cerita—apa yang awalnya kamu kira
begini, eh ternyata begitu. Istilah kerennya adalah twist. Dan asiknya
dalam cerpen kamu bisa bikin twist yang beda 180 derajat dengan klue
awal yang kamu tulis alias membuat sesuatu yang tiba-tiba (biasanya aku
pakai ini di
flash fiction sih).
Puncak konflik ini mudah dikenali dalam tulisan. Biasanya berupa
kalimat pamungkas yang ada di tengah cerita (selain di pembuka dan
penutup cerita). Atau adegan yang kemudian membuat si tokoh memikirkan
hal yang berbeda dengan yang dia persepsikan di awal cerita.
Biasanya, aku menulis cerpen mulai dari menemukan puncak konflik, lalu baru kubuat benang merah ke awal dan akhir cerita.
- Awal cerita: apa yang memotivasi si karakter bisa mengalami puncak
konflik tersebut? Dorongan dari dirinya atau dorongan dari orang lain?
- Anti klimaks (adegan setelah puncak konflik): bagaimana reaksi si karakter setelah mengalami/melewati puncak konflik tersebut?
Sebenarnya dua poin tersebut tergantung bagaimana format ceritanya
ya. Nah, yang ini tergantung dengan alur dan POV yang dipilih.
Alur adalah aliran plot (adegan-adegan dalam cerita). Alur bisa
mengalir maju mundur, maju terus pantang mundur, mundul (flash back),
atau gimana kreatifnya kamu merangkai cerita. Nah, alur ini yang bakal
berpengaruh dengan format tulisan kamu, seperti letak puncak konflik.
PoV (Point of view) atau sudut pandang cerita. Sudut pandang yang
populer adalah sudut pandang orang pertama tunggal (Aku/Saya) dan sudut
pandangan orang ketiga tunggal (Dia atau nama si karakter). Ada juga
sudut pandang orang kedua (kamu/kau/engkau), tapi agak jarang digunakan,
biasanya sih yang udah mahir PoV 3 atau PoV 1, bakal coba PoV 2 ini.
PoV ini menentukan sikap nanti sebagai penulis cerita. Sebagai ‘Aku’
berarti kamu memosisikan diri sebagai penulis dan tokoh sekaligus.
Sebagai ‘Dia’ berarti kamu bisa sebagai pengamat (narrator) atau kamu
sebagai si yang tahu segalanya (sampai ke perasaan hati si tokoh juga).
‘Aku’ punya sudut pandang sebatas yang ‘Aku’ ini ketahui, mudahnya apa
yang ‘Aku’ ini lihat. Sementara menggunakan ‘Dia’ kamu bisa menceritakan
apapun.
Jangan asal memilih sudut pandang, karena nggak semua sudut pandang
cocok dengan genre tertentu (sebenarnya ini tergantung kemampuan penulis
untuk meramu). Sudut pandang ini dibahas kapan-kapan aja deh ya.
Unsur lain dalam cerpen yang penting adalah karakter dan setting.
Karena konflik itu akan hampa tanpa ada karakter yang mengalami. Setting
atau latar sendiri bisa jadi sangat penting atau sekedar pelengkap
saja, itu tergantung dengan kebutuhan ceritamu. Dua unsur ini perlu
dipikirkan dengan baik. Latar seringkali menjadi bagian yang harus
membutuhkan sedikit riset agar cerita yang ditulis bisa terasa lengkap.
Memadupadankan unsur-unsur cerita dilakukan menggunakan
deskripsi-dialog. Idealnya sih, dalam cerpen kedua bagian tersebut punya
proporsi sama besar. Ketika menulis cerpen kuncinya ya deskripsikan apa
yang dibutuhkan dalam cerita dan tulis dialog yang diperlukan saja.
Deskripsi yang kaya akan membuat pembaca lebih bisa merasakan apa yang
dirasakan si tokoh. Dialog dan deskripsi yang kurang penting justru akan
membuat pembaca bosan.
Pemilihan deskripsi atau dialog ini juga diperlukan ketika membuka
atau menutup cerpen. Seperti sebuah film, kadang ada film yang dibuka
langsung dengan karakter-karakter yang mengobrol atau dibuka dengan
serangkaian adegan yang menampilkan latar cerita.
Bagaimana memilih adegan pembuka dan penutup yang baik? Nah, ini
memang jadi peer besar untuk semua penulis. Karena untuk bagian yang
satu ini nggak mudah dijelaskan dengan teori. Perlu sering latihan
menulis dan tentunya membaca untuk tahu seperti apa yang menarik untuk
kita.
Jangan terpaku pada: ‘akhir kisah yang bagus adalah yang happy
ending.’ Ending yang baik adalah ending yang sesuai dengan cerita yang
kamu buat (
tidak memaksakan kehendakmu sendiri, makin sering kamu
menulis kamu akan luwes menentukan ending, atau malah karaktermu sendiri
yang menentukan akhir ceritanya seperti apa—itu kalau kamu sudah tiba
di tahap saat kamu kenal betul karakter tokoh dalam tulisanmu.).
Ending yang baik adalah ending yang memuaskan baik untuk penulis dan
pembaca. Bagaimana bentuk ending yang memuaskan itu? Jawaban ini kamu
yang bisa temukan sendiri dengan lagi-lagi banyak berlatih menulis dan
menyisihkan waktu untuk membaca.
Good stories are about the choices people make, and the
consequences those choices have. Bad stories are about people being
moved by the plot. (kutipan ini kuambil dari
sini)
Menulis cerpen itu tidaklah sulit dan sangat menyenangkan. Buatku
pribadi, menulis cerpen adalah eksplorasi ide-ide baru yang bisa
dikembangkan menjadi novel nantinya. Aku sering memperlakukan
cerpen-cerpen yang kutulis sebagai bagian dari kisah panjang yang belum
kuselesaikan. Kalau kamu sering baca blogku, kamu akan tahu jika banyak
cerita yang saling sambung menyambung. Itu bukan kebetulan, tapi memang
disengaja.
Aku belajar menulis secara otodidak. Aku berani menulis ini setelah
banyak mengamati teman-teman sesama penulis. Jadi, maaf kalau istilahnya
kurang nyastra atau bahasanya terlalu semau-gue atau banyak typo. :p
Tulisan ini aku buat sebanyak seribu seratusan kata. Kalau kamu
merasa ini terlalu singkat, berarti tulislah cerpen yang lebih panjang
dari seribu seratus kata. Kalau merasa terlalu panjang, berarti kamu
harus menyelipkan dialog di antaranya.
Semoga tips dariku bisa membantu.

dikutip dari
Menulis cerita pendek adalah salah satu hal favoritku di dunia ini.
Bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Nggak butuh waktu banyak.
Tentunya bikin hati senang, kecuali cerita yang ditulis sedih atau hasil
curcol.
Cerita pendek menurut salah satu definisi yang kuingat adalah tulisan
yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik narasi sejumlah
1000-10.000 kata. Bagiku pribadi, aku setuju dengan 1000 kata, tapi
10.000 itu terlalu banyak (kecuali bacanya dalam bentuk hardcopy atau
ebook reader, macam Kindle). Dalam membuat cerpen aku sendiri membatasi
jumlah kata yang kugunakan hanya sebanyak 1000-2500 kata atau sekitar
3-8 halaman A4 dengan font TNR 12 spasi 1. Sebenarnya banyak halaman ini
juga bakal tergantung dari format ceritamu, penuh dialog atau padat
deskripsi.
Jumlah kata yang kugunakan tersebut, menurut pengamatanku yang sering jadi
silent reader
di web fanfiksi atau blog orang, itu ideal untuk tipe cerpen yang
ditampilkan di blog atau web. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen
dengan jumlah kata sebanyak itu sekitar 5-20 menit. Kalau lebih naskah
lebih banyak dari itu mendingan dipecah menjadi dua post bersambung atau
pengunjung blog keburu jenuh membacanya.
Banyak penulis novel bilang, menulis cerpen nggak mudah. Sama banyaknya
dengan penulis cerpen yang bilang, menulis novel itu sulit. Tantangan
menulis kedua jenis tulisan tersebut memang berbeda jauh. Meskipun dasar
pembuatannya hampir mirip. Menulis cerpen juga membutuhkan dasar-dasar
yang sama dengan penulisan novel. Dibutuhkan karakter, plot, alur, latar
cerita, dan konflik. Perbedaan paling mencolok adalah novel
menceritakan sebagian hidup dari karakter, sementara cerpen menceritakan
satu kejadian penting yang dialami si tokoh.
Satu kejadian penting, ini adalah kunci utama membuat cerpen. Fokus
ketika membuat cerpen hanya diperlukan di sekitar kejadian itu. Tahu
seluruh sejarah hidup tokoh dan seantero kota tempat cerita ditulis itu
tidak mutlak diperlukan dalam menulis cerpen (bahkan kadang nggak perlu
sama sekali!). Menulis cerita pendek seperti kamu sedang duduk di sebuah
halte bus dan melihat sepasang kekasih bertengkar. Hingga akhirnya
busmu datang dan cerita itu selesailah. Di situ nggak perlu dijelaskan
apa bus yang kamu tunggu, tapi pusatkan cerita yang ditulis kepada
pasangan tersebut. Siapa nama pasangan tersebut? Mengapa mereka
bertengkar? Pakaian apa yang mereka pakai saat itu? Apa si pria menampar
atau malah memeluk? Bagaimana ekspresi si perempuan ketika mengeluarkan
semua uneg-unegnya kepada si pria? Apa saja omongan yang keluar dari
mulut mereka berdua?
Dan kamu dapat satu ide yang bisa kamu kembangkan menjadi cerita pendek: pasangan yang bertengkar karena kesibukan (misalnya).
Setelah mendapat ide, fokuslah kepada konflik. Di mana puncak konflik
pasangan tersebut? Apakah ternyata si perempuan ikut naik bus
bersamamu?
Puncak konflik ini bisa menjadi klimaks sebuah cerpen. Letaknya bisa
di awal, tengah, atau akhir cerita—suka-suka penulis aja. Puncak konflik
ini juga sering menjadi titik balik cerita—apa yang awalnya kamu kira
begini, eh ternyata begitu. Istilah kerennya adalah twist. Dan asiknya
dalam cerpen kamu bisa bikin twist yang beda 180 derajat dengan klue
awal yang kamu tulis alias membuat sesuatu yang tiba-tiba (biasanya aku
pakai ini di
flash fiction sih).
Puncak konflik ini mudah dikenali dalam tulisan. Biasanya berupa
kalimat pamungkas yang ada di tengah cerita (selain di pembuka dan
penutup cerita). Atau adegan yang kemudian membuat si tokoh memikirkan
hal yang berbeda dengan yang dia persepsikan di awal cerita.
Biasanya, aku menulis cerpen mulai dari menemukan puncak konflik, lalu baru kubuat benang merah ke awal dan akhir cerita.
- Awal cerita: apa yang memotivasi si karakter bisa mengalami puncak
konflik tersebut? Dorongan dari dirinya atau dorongan dari orang lain?
- Anti klimaks (adegan setelah puncak konflik): bagaimana reaksi si karakter setelah mengalami/melewati puncak konflik tersebut?
Sebenarnya dua poin tersebut tergantung bagaimana format ceritanya
ya. Nah, yang ini tergantung dengan alur dan POV yang dipilih.
Alur adalah aliran plot (adegan-adegan dalam cerita). Alur bisa
mengalir maju mundur, maju terus pantang mundur, mundul (flash back),
atau gimana kreatifnya kamu merangkai cerita. Nah, alur ini yang bakal
berpengaruh dengan format tulisan kamu, seperti letak puncak konflik.
PoV (Point of view) atau sudut pandang cerita. Sudut pandang yang
populer adalah sudut pandang orang pertama tunggal (Aku/Saya) dan sudut
pandangan orang ketiga tunggal (Dia atau nama si karakter). Ada juga
sudut pandang orang kedua (kamu/kau/engkau), tapi agak jarang digunakan,
biasanya sih yang udah mahir PoV 3 atau PoV 1, bakal coba PoV 2 ini.
PoV ini menentukan sikap nanti sebagai penulis cerita. Sebagai ‘Aku’
berarti kamu memosisikan diri sebagai penulis dan tokoh sekaligus.
Sebagai ‘Dia’ berarti kamu bisa sebagai pengamat (narrator) atau kamu
sebagai si yang tahu segalanya (sampai ke perasaan hati si tokoh juga).
‘Aku’ punya sudut pandang sebatas yang ‘Aku’ ini ketahui, mudahnya apa
yang ‘Aku’ ini lihat. Sementara menggunakan ‘Dia’ kamu bisa menceritakan
apapun.
Jangan asal memilih sudut pandang, karena nggak semua sudut pandang
cocok dengan genre tertentu (sebenarnya ini tergantung kemampuan penulis
untuk meramu). Sudut pandang ini dibahas kapan-kapan aja deh ya.
Unsur lain dalam cerpen yang penting adalah karakter dan setting.
Karena konflik itu akan hampa tanpa ada karakter yang mengalami. Setting
atau latar sendiri bisa jadi sangat penting atau sekedar pelengkap
saja, itu tergantung dengan kebutuhan ceritamu. Dua unsur ini perlu
dipikirkan dengan baik. Latar seringkali menjadi bagian yang harus
membutuhkan sedikit riset agar cerita yang ditulis bisa terasa lengkap.
Memadupadankan unsur-unsur cerita dilakukan menggunakan
deskripsi-dialog. Idealnya sih, dalam cerpen kedua bagian tersebut punya
proporsi sama besar. Ketika menulis cerpen kuncinya ya deskripsikan apa
yang dibutuhkan dalam cerita dan tulis dialog yang diperlukan saja.
Deskripsi yang kaya akan membuat pembaca lebih bisa merasakan apa yang
dirasakan si tokoh. Dialog dan deskripsi yang kurang penting justru akan
membuat pembaca bosan.
Pemilihan deskripsi atau dialog ini juga diperlukan ketika membuka
atau menutup cerpen. Seperti sebuah film, kadang ada film yang dibuka
langsung dengan karakter-karakter yang mengobrol atau dibuka dengan
serangkaian adegan yang menampilkan latar cerita.
Bagaimana memilih adegan pembuka dan penutup yang baik? Nah, ini
memang jadi peer besar untuk semua penulis. Karena untuk bagian yang
satu ini nggak mudah dijelaskan dengan teori. Perlu sering latihan
menulis dan tentunya membaca untuk tahu seperti apa yang menarik untuk
kita.
Jangan terpaku pada: ‘akhir kisah yang bagus adalah yang happy
ending.’ Ending yang baik adalah ending yang sesuai dengan cerita yang
kamu buat (
tidak memaksakan kehendakmu sendiri, makin sering kamu
menulis kamu akan luwes menentukan ending, atau malah karaktermu sendiri
yang menentukan akhir ceritanya seperti apa—itu kalau kamu sudah tiba
di tahap saat kamu kenal betul karakter tokoh dalam tulisanmu.).
Ending yang baik adalah ending yang memuaskan baik untuk penulis dan
pembaca. Bagaimana bentuk ending yang memuaskan itu? Jawaban ini kamu
yang bisa temukan sendiri dengan lagi-lagi banyak berlatih menulis dan
menyisihkan waktu untuk membaca.
Good stories are about the choices people make, and the
consequences those choices have. Bad stories are about people being
moved by the plot. (kutipan ini kuambil dari
sini)
Menulis cerpen itu tidaklah sulit dan sangat menyenangkan. Buatku
pribadi, menulis cerpen adalah eksplorasi ide-ide baru yang bisa
dikembangkan menjadi novel nantinya. Aku sering memperlakukan
cerpen-cerpen yang kutulis sebagai bagian dari kisah panjang yang belum
kuselesaikan. Kalau kamu sering baca blogku, kamu akan tahu jika banyak
cerita yang saling sambung menyambung. Itu bukan kebetulan, tapi memang
disengaja.
Aku belajar menulis secara otodidak. Aku berani menulis ini setelah
banyak mengamati teman-teman sesama penulis. Jadi, maaf kalau istilahnya
kurang nyastra atau bahasanya terlalu semau-gue atau banyak typo. :p
Tulisan ini aku buat sebanyak seribu seratusan kata. Kalau kamu
merasa ini terlalu singkat, berarti tulislah cerpen yang lebih panjang
dari seribu seratus kata. Kalau merasa terlalu panjang, berarti kamu
harus menyelipkan dialog di antaranya.
Semoga tips dariku bisa membantu.