Rabu, 28 November 2012

tips menulis cerpen

Menulis cerita pendek adalah salah satu hal favoritku di dunia ini. Bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Nggak butuh waktu banyak. Tentunya bikin hati senang, kecuali cerita yang ditulis sedih atau hasil curcol.
Cerita pendek menurut salah satu definisi yang kuingat adalah tulisan yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik narasi sejumlah 1000-10.000 kata. Bagiku pribadi, aku setuju dengan 1000 kata, tapi 10.000 itu terlalu banyak (kecuali bacanya dalam bentuk hardcopy atau ebook reader, macam Kindle). Dalam membuat cerpen aku sendiri membatasi jumlah kata yang kugunakan hanya sebanyak 1000-2500 kata atau sekitar 3-8 halaman A4 dengan font TNR 12 spasi 1. Sebenarnya banyak halaman ini juga bakal tergantung dari format ceritamu, penuh dialog atau padat deskripsi.
Jumlah kata yang kugunakan tersebut, menurut pengamatanku yang sering jadi silent reader di web fanfiksi atau blog orang, itu ideal untuk tipe cerpen yang ditampilkan di blog atau web. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen dengan jumlah kata sebanyak itu sekitar 5-20 menit. Kalau lebih naskah lebih banyak dari itu mendingan dipecah menjadi dua post bersambung atau pengunjung blog keburu jenuh membacanya.

Banyak penulis novel bilang, menulis cerpen nggak mudah. Sama banyaknya dengan penulis cerpen yang bilang, menulis novel itu sulit. Tantangan menulis kedua jenis tulisan tersebut memang berbeda jauh. Meskipun dasar pembuatannya hampir mirip. Menulis cerpen juga membutuhkan dasar-dasar yang sama dengan penulisan novel. Dibutuhkan karakter, plot, alur, latar cerita, dan konflik. Perbedaan paling mencolok adalah novel menceritakan sebagian hidup dari karakter, sementara cerpen menceritakan satu kejadian penting yang dialami si tokoh.
Satu kejadian penting, ini adalah kunci utama membuat cerpen. Fokus ketika membuat cerpen hanya diperlukan di sekitar kejadian itu. Tahu seluruh sejarah hidup tokoh dan seantero kota tempat cerita ditulis itu tidak mutlak diperlukan dalam menulis cerpen (bahkan kadang nggak perlu sama sekali!). Menulis cerita pendek seperti kamu sedang duduk di sebuah halte bus dan melihat sepasang kekasih bertengkar. Hingga akhirnya busmu datang dan cerita itu selesailah. Di situ nggak perlu dijelaskan apa bus yang kamu tunggu, tapi pusatkan cerita yang ditulis kepada pasangan tersebut. Siapa nama pasangan tersebut? Mengapa mereka bertengkar? Pakaian apa yang mereka pakai saat itu? Apa si pria menampar atau malah memeluk? Bagaimana ekspresi si perempuan ketika mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada si pria? Apa saja omongan yang keluar dari mulut mereka berdua?
Dan kamu dapat satu ide yang bisa kamu kembangkan menjadi cerita pendek: pasangan yang bertengkar karena kesibukan (misalnya).
Setelah mendapat ide, fokuslah kepada konflik. Di mana puncak konflik pasangan tersebut? Apakah ternyata si perempuan ikut naik bus bersamamu?
Puncak konflik ini bisa menjadi klimaks sebuah cerpen. Letaknya bisa di awal, tengah, atau akhir cerita—suka-suka penulis aja. Puncak konflik ini juga sering menjadi titik balik cerita—apa yang awalnya kamu kira begini, eh ternyata begitu. Istilah kerennya adalah twist. Dan asiknya dalam cerpen kamu bisa bikin twist yang beda 180 derajat dengan klue awal yang kamu tulis alias membuat sesuatu yang tiba-tiba (biasanya aku pakai ini di flash fiction sih).
Puncak konflik ini mudah dikenali dalam tulisan. Biasanya berupa kalimat pamungkas yang ada di tengah cerita (selain di pembuka dan penutup cerita). Atau adegan yang kemudian membuat si tokoh memikirkan hal yang berbeda dengan yang dia persepsikan di awal cerita.
Biasanya, aku menulis cerpen mulai dari menemukan puncak konflik, lalu baru kubuat benang merah ke awal dan akhir cerita.
- Awal cerita: apa yang memotivasi si karakter bisa mengalami puncak konflik tersebut? Dorongan dari dirinya atau dorongan dari orang lain?
- Anti klimaks (adegan setelah puncak konflik): bagaimana reaksi si karakter setelah mengalami/melewati puncak konflik tersebut?
Sebenarnya dua poin tersebut tergantung bagaimana format ceritanya ya. Nah, yang ini tergantung dengan alur dan POV yang dipilih.
Alur adalah aliran plot (adegan-adegan dalam cerita). Alur bisa mengalir maju mundur, maju terus pantang mundur, mundul (flash back), atau gimana kreatifnya kamu merangkai cerita. Nah, alur ini yang bakal berpengaruh dengan format tulisan kamu, seperti letak puncak konflik.
PoV (Point of view) atau sudut pandang cerita. Sudut pandang yang populer adalah sudut pandang orang pertama tunggal (Aku/Saya) dan sudut pandangan orang ketiga tunggal (Dia atau nama si karakter). Ada juga sudut pandang orang kedua (kamu/kau/engkau), tapi agak jarang digunakan, biasanya sih yang udah mahir PoV 3 atau PoV 1, bakal coba PoV 2 ini.
PoV ini menentukan sikap nanti sebagai penulis cerita. Sebagai ‘Aku’ berarti kamu memosisikan diri sebagai penulis dan tokoh sekaligus. Sebagai ‘Dia’ berarti kamu bisa sebagai pengamat (narrator) atau kamu sebagai si yang tahu segalanya (sampai ke perasaan hati si tokoh juga). ‘Aku’ punya sudut pandang sebatas yang ‘Aku’ ini ketahui, mudahnya apa yang ‘Aku’ ini lihat. Sementara menggunakan ‘Dia’ kamu bisa menceritakan apapun.
Jangan asal memilih sudut pandang, karena nggak semua sudut pandang cocok dengan genre tertentu (sebenarnya ini tergantung kemampuan penulis untuk meramu). Sudut pandang ini dibahas kapan-kapan aja deh ya.
Unsur lain dalam cerpen yang penting adalah karakter dan setting. Karena konflik itu akan hampa tanpa ada karakter yang mengalami. Setting atau latar sendiri bisa jadi sangat penting atau sekedar pelengkap saja, itu tergantung dengan kebutuhan ceritamu. Dua unsur ini perlu dipikirkan dengan baik. Latar seringkali menjadi bagian yang harus membutuhkan sedikit riset agar cerita yang ditulis bisa terasa lengkap.
Memadupadankan unsur-unsur cerita dilakukan menggunakan deskripsi-dialog. Idealnya sih, dalam cerpen kedua bagian tersebut punya proporsi sama besar. Ketika menulis cerpen kuncinya ya deskripsikan apa yang dibutuhkan dalam cerita dan tulis dialog yang diperlukan saja. Deskripsi yang kaya akan membuat pembaca lebih bisa merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Dialog dan deskripsi yang kurang penting justru akan membuat pembaca bosan.
Pemilihan deskripsi atau dialog ini juga diperlukan ketika membuka atau menutup cerpen. Seperti sebuah film, kadang ada film yang dibuka langsung dengan karakter-karakter yang mengobrol atau dibuka dengan serangkaian adegan yang menampilkan latar cerita.
Bagaimana memilih adegan pembuka dan penutup yang baik? Nah, ini memang jadi peer besar untuk semua penulis. Karena untuk bagian yang satu ini nggak mudah dijelaskan dengan teori. Perlu sering latihan menulis dan tentunya membaca untuk tahu seperti apa yang menarik untuk kita.
Jangan terpaku pada: ‘akhir kisah yang bagus adalah yang happy ending.’ Ending yang baik adalah ending yang sesuai dengan cerita yang kamu buat (tidak memaksakan kehendakmu sendiri, makin sering kamu menulis kamu akan luwes menentukan ending, atau malah karaktermu sendiri yang menentukan akhir ceritanya seperti apa—itu kalau kamu sudah tiba di tahap saat kamu kenal betul karakter tokoh dalam tulisanmu.). Ending yang baik adalah ending yang memuaskan baik untuk penulis dan pembaca. Bagaimana bentuk ending yang memuaskan itu? Jawaban ini kamu yang bisa temukan sendiri dengan lagi-lagi banyak berlatih menulis dan menyisihkan waktu untuk membaca.
Good stories are about the choices people make, and the consequences those choices have. Bad stories are about people being moved by the plot. (kutipan ini kuambil dari sini)
Menulis cerpen itu tidaklah sulit dan sangat menyenangkan. Buatku pribadi, menulis cerpen adalah eksplorasi ide-ide baru yang bisa dikembangkan menjadi novel nantinya. Aku sering memperlakukan cerpen-cerpen yang kutulis sebagai bagian dari kisah panjang yang belum kuselesaikan. Kalau kamu sering baca blogku, kamu akan tahu jika banyak cerita yang saling sambung menyambung. Itu bukan kebetulan, tapi memang disengaja. :)
Aku belajar menulis secara otodidak. Aku berani menulis ini setelah banyak mengamati teman-teman sesama penulis. Jadi, maaf kalau istilahnya kurang nyastra atau bahasanya terlalu semau-gue atau banyak typo. :p
Tulisan ini aku buat sebanyak seribu seratusan kata. Kalau kamu merasa ini terlalu singkat, berarti tulislah cerpen yang lebih panjang dari seribu seratus kata. Kalau merasa terlalu panjang, berarti kamu harus menyelipkan dialog di antaranya.
Semoga tips dariku bisa membantu. :)
dikutip dari 
Menulis cerita pendek adalah salah satu hal favoritku di dunia ini. Bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Nggak butuh waktu banyak. Tentunya bikin hati senang, kecuali cerita yang ditulis sedih atau hasil curcol.
Cerita pendek menurut salah satu definisi yang kuingat adalah tulisan yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik narasi sejumlah 1000-10.000 kata. Bagiku pribadi, aku setuju dengan 1000 kata, tapi 10.000 itu terlalu banyak (kecuali bacanya dalam bentuk hardcopy atau ebook reader, macam Kindle). Dalam membuat cerpen aku sendiri membatasi jumlah kata yang kugunakan hanya sebanyak 1000-2500 kata atau sekitar 3-8 halaman A4 dengan font TNR 12 spasi 1. Sebenarnya banyak halaman ini juga bakal tergantung dari format ceritamu, penuh dialog atau padat deskripsi.
Jumlah kata yang kugunakan tersebut, menurut pengamatanku yang sering jadi silent reader di web fanfiksi atau blog orang, itu ideal untuk tipe cerpen yang ditampilkan di blog atau web. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen dengan jumlah kata sebanyak itu sekitar 5-20 menit. Kalau lebih naskah lebih banyak dari itu mendingan dipecah menjadi dua post bersambung atau pengunjung blog keburu jenuh membacanya.

Banyak penulis novel bilang, menulis cerpen nggak mudah. Sama banyaknya dengan penulis cerpen yang bilang, menulis novel itu sulit. Tantangan menulis kedua jenis tulisan tersebut memang berbeda jauh. Meskipun dasar pembuatannya hampir mirip. Menulis cerpen juga membutuhkan dasar-dasar yang sama dengan penulisan novel. Dibutuhkan karakter, plot, alur, latar cerita, dan konflik. Perbedaan paling mencolok adalah novel menceritakan sebagian hidup dari karakter, sementara cerpen menceritakan satu kejadian penting yang dialami si tokoh.
Satu kejadian penting, ini adalah kunci utama membuat cerpen. Fokus ketika membuat cerpen hanya diperlukan di sekitar kejadian itu. Tahu seluruh sejarah hidup tokoh dan seantero kota tempat cerita ditulis itu tidak mutlak diperlukan dalam menulis cerpen (bahkan kadang nggak perlu sama sekali!). Menulis cerita pendek seperti kamu sedang duduk di sebuah halte bus dan melihat sepasang kekasih bertengkar. Hingga akhirnya busmu datang dan cerita itu selesailah. Di situ nggak perlu dijelaskan apa bus yang kamu tunggu, tapi pusatkan cerita yang ditulis kepada pasangan tersebut. Siapa nama pasangan tersebut? Mengapa mereka bertengkar? Pakaian apa yang mereka pakai saat itu? Apa si pria menampar atau malah memeluk? Bagaimana ekspresi si perempuan ketika mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada si pria? Apa saja omongan yang keluar dari mulut mereka berdua?
Dan kamu dapat satu ide yang bisa kamu kembangkan menjadi cerita pendek: pasangan yang bertengkar karena kesibukan (misalnya).
Setelah mendapat ide, fokuslah kepada konflik. Di mana puncak konflik pasangan tersebut? Apakah ternyata si perempuan ikut naik bus bersamamu?
Puncak konflik ini bisa menjadi klimaks sebuah cerpen. Letaknya bisa di awal, tengah, atau akhir cerita—suka-suka penulis aja. Puncak konflik ini juga sering menjadi titik balik cerita—apa yang awalnya kamu kira begini, eh ternyata begitu. Istilah kerennya adalah twist. Dan asiknya dalam cerpen kamu bisa bikin twist yang beda 180 derajat dengan klue awal yang kamu tulis alias membuat sesuatu yang tiba-tiba (biasanya aku pakai ini di flash fiction sih).
Puncak konflik ini mudah dikenali dalam tulisan. Biasanya berupa kalimat pamungkas yang ada di tengah cerita (selain di pembuka dan penutup cerita). Atau adegan yang kemudian membuat si tokoh memikirkan hal yang berbeda dengan yang dia persepsikan di awal cerita.
Biasanya, aku menulis cerpen mulai dari menemukan puncak konflik, lalu baru kubuat benang merah ke awal dan akhir cerita.
- Awal cerita: apa yang memotivasi si karakter bisa mengalami puncak konflik tersebut? Dorongan dari dirinya atau dorongan dari orang lain?
- Anti klimaks (adegan setelah puncak konflik): bagaimana reaksi si karakter setelah mengalami/melewati puncak konflik tersebut?
Sebenarnya dua poin tersebut tergantung bagaimana format ceritanya ya. Nah, yang ini tergantung dengan alur dan POV yang dipilih.
Alur adalah aliran plot (adegan-adegan dalam cerita). Alur bisa mengalir maju mundur, maju terus pantang mundur, mundul (flash back), atau gimana kreatifnya kamu merangkai cerita. Nah, alur ini yang bakal berpengaruh dengan format tulisan kamu, seperti letak puncak konflik.
PoV (Point of view) atau sudut pandang cerita. Sudut pandang yang populer adalah sudut pandang orang pertama tunggal (Aku/Saya) dan sudut pandangan orang ketiga tunggal (Dia atau nama si karakter). Ada juga sudut pandang orang kedua (kamu/kau/engkau), tapi agak jarang digunakan, biasanya sih yang udah mahir PoV 3 atau PoV 1, bakal coba PoV 2 ini.
PoV ini menentukan sikap nanti sebagai penulis cerita. Sebagai ‘Aku’ berarti kamu memosisikan diri sebagai penulis dan tokoh sekaligus. Sebagai ‘Dia’ berarti kamu bisa sebagai pengamat (narrator) atau kamu sebagai si yang tahu segalanya (sampai ke perasaan hati si tokoh juga). ‘Aku’ punya sudut pandang sebatas yang ‘Aku’ ini ketahui, mudahnya apa yang ‘Aku’ ini lihat. Sementara menggunakan ‘Dia’ kamu bisa menceritakan apapun.
Jangan asal memilih sudut pandang, karena nggak semua sudut pandang cocok dengan genre tertentu (sebenarnya ini tergantung kemampuan penulis untuk meramu). Sudut pandang ini dibahas kapan-kapan aja deh ya.
Unsur lain dalam cerpen yang penting adalah karakter dan setting. Karena konflik itu akan hampa tanpa ada karakter yang mengalami. Setting atau latar sendiri bisa jadi sangat penting atau sekedar pelengkap saja, itu tergantung dengan kebutuhan ceritamu. Dua unsur ini perlu dipikirkan dengan baik. Latar seringkali menjadi bagian yang harus membutuhkan sedikit riset agar cerita yang ditulis bisa terasa lengkap.
Memadupadankan unsur-unsur cerita dilakukan menggunakan deskripsi-dialog. Idealnya sih, dalam cerpen kedua bagian tersebut punya proporsi sama besar. Ketika menulis cerpen kuncinya ya deskripsikan apa yang dibutuhkan dalam cerita dan tulis dialog yang diperlukan saja. Deskripsi yang kaya akan membuat pembaca lebih bisa merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Dialog dan deskripsi yang kurang penting justru akan membuat pembaca bosan.
Pemilihan deskripsi atau dialog ini juga diperlukan ketika membuka atau menutup cerpen. Seperti sebuah film, kadang ada film yang dibuka langsung dengan karakter-karakter yang mengobrol atau dibuka dengan serangkaian adegan yang menampilkan latar cerita.
Bagaimana memilih adegan pembuka dan penutup yang baik? Nah, ini memang jadi peer besar untuk semua penulis. Karena untuk bagian yang satu ini nggak mudah dijelaskan dengan teori. Perlu sering latihan menulis dan tentunya membaca untuk tahu seperti apa yang menarik untuk kita.
Jangan terpaku pada: ‘akhir kisah yang bagus adalah yang happy ending.’ Ending yang baik adalah ending yang sesuai dengan cerita yang kamu buat (tidak memaksakan kehendakmu sendiri, makin sering kamu menulis kamu akan luwes menentukan ending, atau malah karaktermu sendiri yang menentukan akhir ceritanya seperti apa—itu kalau kamu sudah tiba di tahap saat kamu kenal betul karakter tokoh dalam tulisanmu.). Ending yang baik adalah ending yang memuaskan baik untuk penulis dan pembaca. Bagaimana bentuk ending yang memuaskan itu? Jawaban ini kamu yang bisa temukan sendiri dengan lagi-lagi banyak berlatih menulis dan menyisihkan waktu untuk membaca.
Good stories are about the choices people make, and the consequences those choices have. Bad stories are about people being moved by the plot. (kutipan ini kuambil dari sini)
Menulis cerpen itu tidaklah sulit dan sangat menyenangkan. Buatku pribadi, menulis cerpen adalah eksplorasi ide-ide baru yang bisa dikembangkan menjadi novel nantinya. Aku sering memperlakukan cerpen-cerpen yang kutulis sebagai bagian dari kisah panjang yang belum kuselesaikan. Kalau kamu sering baca blogku, kamu akan tahu jika banyak cerita yang saling sambung menyambung. Itu bukan kebetulan, tapi memang disengaja. :)
Aku belajar menulis secara otodidak. Aku berani menulis ini setelah banyak mengamati teman-teman sesama penulis. Jadi, maaf kalau istilahnya kurang nyastra atau bahasanya terlalu semau-gue atau banyak typo. :p
Tulisan ini aku buat sebanyak seribu seratusan kata. Kalau kamu merasa ini terlalu singkat, berarti tulislah cerpen yang lebih panjang dari seribu seratus kata. Kalau merasa terlalu panjang, berarti kamu harus menyelipkan dialog di antaranya.
Semoga tips dariku bisa membantu. :)

Minggu, 25 November 2012

AllAboutDuaribuDuabelasFKMUnsri :D

       Ini dia Fakultas kesehatan masyarakat Univesitas Sriwijaya angkatan 2012 saat kegiatan P2K/PK2/ lebih familiar dengan sebutan ospek kali ya. Perlu diketahui bahwa angkatan 2012 merupakan angkatan dengan jumlah mahasiswa terbanyak sepanjang fakultas ini berdiri bahkan mungkin sejak fakultas ini masih menjadi prodi yang tergabung dalam Fakultas Kedokteran. Angkatan 2012 berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang didominasi oleh daerah sumatera bagian selatan, beberapa asal daerah tempat kami berasal diantaranya Jambi, Sumatra Barat, Medan, Lampung, Bengkulu, Babel, Jawa Barat, Jakarta, Bahkan hingga Ke tanah Papua ( maaf bagi daerah yg belum tersebutkan :D). Asal daerah yang berbeda tidak membuat kami saling mendeskriditkan satu sama lain, disinilah ajang kami untuk  bertukar pikiran dalam segala hal bahkan kabar kabarnya telah ada yang terindikasi cinta lokasi hehehhe ( SIAPA DIA ORANG NYA PEMIRSA SEKALIAN?  :D ) . Seiring berjalannya waktu diharapkan angkatan 2012 dapat menjadi anggota keluarga yang lebih solid. HIDUP MAHASISWA , HIDUP FKM UNSRI!!, HIDUP 2012!!!
SALAM SEHAT !! 

Jumat, 23 November 2012

Bermula Dari Sini

bermula di gedung  inilah kami mendapatkan pengalaman yang sangat berharga yang tidak mungkin kami lupakan hingga hari tua nanti. Segala sesuatu hal kami rasakan bersama selama tiga tahun dengan naungan satu atap grha siswa sma TT sehingga memperkuat tali ukhuwah kami menjadi sebuah untaian rantai yang sulit terpisahkan. Di gedung ini aku mendapat banyak pelajaran kawan,  yang mungkin tidak bisa aku dapatkan di tempat lain. Andaikan waktu bisa ku putar aku ingin merasakan sebentar atmosfer masa lalu yang terkadang kalau difikir begitu lucu, dengan seribu aturan senioritas, dan sejuta aturan sekolah yang terkadang sedikit memberatkan. Hingga akhirnya waktu jualah yang menjawab dan mengakhiri cerita kita di gedung ini, perlu diingat bahwasannya kita mempunyai tujuan hidup masing masing yang telah digariskan Allah kawan, maka gapailah cita-cita mu setinggi langit .

Meski Kami Di Ujung Senja

Kulihat langit sore merah merona
Warnanya indah  memberi kedamaian dunia
Tapi . . .kulihat di sudut jalan sana tiada nyawa yang tersisa

 Ku lihat dengan mata peluru menghujam kedalam raga
 Aku tak tau mengapa dunia saat ini seakan-akan tuli atau bisu?
 Mungkinkah Tuhan akan murka?

Terbersit rasa di relung jiwa walau kami tak asa
Tapi kami percaya Tuhan tunjukkan jalannya

 




 

MY Generation" Titian Teras Senior High School"


Definisi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk meningkatkan sanitasi lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan, untuk diagnosa dini, pencegahan penyakit dan pengembangan aspek sosial, yang akan mendukung agar setiap orang di masyarakat mempunyai standar kehidupan yang kuat untuk menjaga kesehatannya (Profesor Winslow)

Pejuang Intelektual

            Wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun ke jalan  demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta. Sepenggal lirik ini tentunya membuat kita merinding dan membakar sejuta semangat dalam jiwa, siapakah kita? Ya kita adalah MAHASISWA.
            Sebagai pemuda yang memiliki intelektualitas yang baik kita memiliki peran yang besar untuk merubah negeri ini menjadi lebih baik karena salah satu peran mahasiswa adalah agent of change yang berarti agen perubahan, dan ada juga pepatah yang mengatakan “ baik buruknya suatu negeri tergantung dari pada pemudanya”. Tentunya hal ini menjadi tanggung jawab yang besar bagi kita para mahasiswa sekaligus pemuda  melihat wajah negeri kita ini yang begitu semerawut, tindak korupsi begitu tinggi, kriminalitas meningkat, angka kemiskinan masih tinggi, mutu pendidikan rendah, tingkat kesehatan serta layanannya yang  jauh tertinggal dari negara lain, tidak hanya itu tetapi moralitas pun merosot tajam, dan segudang masalah lainnya.
            Oh..Tuhan banyak sekali tugas yang harus kita selesaikan, apakah kita sanggup? Hal itu yang mungkin tertanam dalam benak kita saat ini. Coba kita lihat berapa banyak pemuda yang peduli dengan nasib negeri ini kedepan? Yah tepat sekali, hanya segelintir dari jutaan pemuda di negri ini jawabnya. Hal ini menjadi poin penting juga bagi kita, tentang bagaimana kita dapat mempersatukan berjuta-juta pikiran dan sifat ego masing-masing menjadi satu tujuan yaitu sebuah PERUBAHAN yang lebih baik kawan.
            Soekarno pernah berkata “ berikan aku SEPULUH pemuda maka aku akan mengguncang dunia” hebat bukan? Tetapi kita juga mempunyai tokoh  yang lebih hebat dalam sebuah pergerakan menggemparkan dunia, siapa dia? Ya dia adalah sosok Rasulullah SAW yang hanya membutuhkan EMPAT orang sahabat untuk menguasai dua per tiga dari dunia ini. Sosok ini sangat luar biasa kawan, mereka hanya membutuhkan pemuda yang dapat dihitung dengan hitungan jari, bagaimana dengan kita? Kita terdiri dari jutaan pemuda, tentunya kita juga pasti bisa lebih hebat dengan semangat para pemuda yang kita miliki. Untuk itu mari kita satukan misi dan semangat kita untuk membuat sebuah tindakan, dalam artian bukan tindakan atau aksi anarkis yang malah merubah paradigma masyarakat terhadap mahasiswa menjadi buruk, tetapi sebuah tindakan positif untuk  menggoreskan sebuah tinta peradaban yang akan menggemparkan dunia dengan sebuah perubahan yang lebih baik untuk negeri tercinta ini.