Selasa, 18 Desember 2012


Ku Genggam CahayaMU  Yang Hakiki
“Kriiiiiiiiiiiiiiing”  melalui perantara udara bunyi jam beker yang terletak di tempat tidurku merasuk kedalam telinga, akupun terbangun dari tidur nyenyakku, waktu telah menunjukkan pukul 05.00 WIB itu artinya waktu shalat subuh untuk pemeluk agama Islam, tetapi mataku yang masih begitu berat tertarik oleh gravitasi kemalasan membuat kelopaknya terjatuh kembali dalam buaian tipu muslihat setan dan membuat ku berfikir untuk memanjakan tubuh kembali. Tak terasa aku telah terbuai oleh waktu. Setelah aku terbangun ternyata jam telah menunjukan pukul 13.00 WIB, untungnya hari ini aku sedang libur kerja. Tiba-tiba aku mendengar  nada dering dari handphoneku berdering, itu bertanda ada seseorang yang menghubungiku. Perlahan aku beranjak dari tempat tidur dan meraihnya “ Haloo, siapa ya? ” tanyaku. “ Ini Lena, masak sih kamu gak kenal dengan suaraku” jawab Lena dengan nada sedikit kesal. “ Oooh Lena, maaf Len aku masih setengah sadar nih baru bangun tidur” kataku dengan semangatnya. “Oh ya, Ana ntar malem kamu ada acara nggak? maen ke bar yuk hehhe”  ajak Lena, “ emmm boleh, ntar kita ketemuan di Bar yang biasa ya” Jawabku secara spontan, tetapi di dalam hati kecil ini terasa sangat berat. Aku mulai bosan dengan kehidupan dunia malam yang seperti ini.
Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 malam, aku bersiap-siap untuk memenuhi ajakan sahabatku Lena pergi berpesta ke Bar malam ini. Penampilanku malam ini harus seksi dan semenarik mungkin, kupilih secara selektif pakain yang akan kukenakan malam ini. Yah akhirnya aku menemukannya, sebuah rok mini dan baju yang serba kekurangan bahan alias terbuka. Sekitar satu jam kuhabiskan waktu untuk berdandan ala wanita jahiliyah, dan dengan percaya dirinya aku melangkah keluar rumah menuju mobil pribadiku yang telah terparkir. Ku tancap gas dengan segera. Akhirnya sampai juga aku di Bar tempat kami mengadakan janji. Akupun segera masuk ke dalam dan mencari Lena, tidak lama setelah aku menolehkan kepalaku ka kanan dan ke kiri mencarinya, yup itu dia aku melihatnya “ Hai Lena” panggilku dengan suara yang sangat keras. “ Hei Ana ayo kesini udah aku pesenin nih minuman alkoholnya” sahut Lena dengan suara yang sama keras pula. Aku segera melangkahkan kaki dengan ringannya menuju arah Lena. “ Ini Na aku tuangin alkoholnya ke gelas kamu, minum yang banyak ya !! pokoknya malam ini kita bersenang senang sampai pagi Hahahahah” Celoteh Lena sambil menuangkan alkohol ke gelasku. Segera aku arahkan gelas itu ke mulutku dan meneguk minuman keras yang telah tersedia sambil tertawa riang. Malam semakin larut suasana di dalam Bar semakin panas, terlihat muda mudi sangat asyik menikmati hiburan dunia yang penuh dengan maksiat.
            Malam ini aku mabuk berat, ku putuskan untuk pulang lebih awal dari teman temanku karena besok jam 08.00 pagi aku harus berangkat kerja. Kesadaranku saat ini sedang tidak baik karena pengaruh alkohol yang ku konsumsi terlalu banyak, tetapi aku tetap nekat untuk mengendarai mobil sendirian. Saat dalam perjalanan menuju rumah, aku mengalami kecelakaan, mobilku menghantam tiang listrik yang terdapat di tepi jalan. Kesadaranku telah seratus pesen menghilang saat itu, entah apa yang terjadi pada diriku sedikitpun aku tidak mengetahuinya. Ketika terbangun aku telah mendapati diriku terbaring di sebuah rumah kecil yang beratapkan seng yang sudah tampak tua. Aku mulai menggerakkan tubuhku, “ jangan banyak bergerak nak tubuhnu belum pulih benar” kata seorang ibu paruh baya yang duduk disampingku . “Ibu siapa? Kenapa saya bisa berada di sini bu?” tanyaku dengan heran. “ Nama ibu Nining, ibu mendapatimu sedang mendapatkan kecelakaan dan kondisimu begitu mengkhawatirkan saat itu nak, ibu bingung mau minta tolong sama siapa, ibu khawatir jika kamu tidak segera ditolong nyawamu akan terancam, oleh karena itu ibu memberanikan diri untuk menolongmu, sungguh ibu tidak ada maksud lain nak, ibu lakukan ini karena Allah” Jawab wanita tua itu sambil tersenyum hangat. Akupun membalas senyum hangatnya seraya megucapkan terima kasih banyak kepadanya. “ Tidak usah terlalu berterimakasih kepada ibu nak, tetapi berterima kasihlah engkau kepada Allah dengan banyak-banyak bersyukur. Karena Dialah sesungguhnya yang telah memeliharamu, dan melindungimu dari maut yang hampir menimpamu” Jawab Wanita tersebut dengan nada yang begitu lirih. Entah mengapa  hatiku merasa bergetar dan tubuhku merinding saat wanita tersebut menyebut nama Allah . Aku merasa begitu mendustakan nikmatNya selama ini.
            “Nak ibu mau pergi ke pasar dulu ya membeli sayuran untuk makan siang kita nanti, kalau ada perlu sesuatu panggil aja anak ibu, namanya Ridwan” kata wanita sambil tersenyum. “ Oh baik Bu” kataku membalas ucapannya. Kata-kata nasihat yang diberikan wanita itu terus terngiang di benakku. Tiba-tiba aku mendengar seorang lelaki yang sedang melantunkan ayat Allah dengan sangat merdu. Aku mencari sumber suara tersebut, yah arahnya dari kamar kecil tepat di sebelah kiri posisi berdiriku sekarang. Perlahan aku membuka pintu kamar tersebut “permisi, maaf kalau saya mengganggu” kataku dengan nada sedikit sungkan. Terlihat ekspresi lelaki itu begitu kaget saat aku membuka pintu kamarnya. “ Ya ada yang bisa saya bantu mbak?” katanya agak sedikit grogi. “ Emm nggak kok aku tadi cuma penasaran pengen liat siapa yang ngaji, jujur suara kamu bagus banget, rasanya aku belum pernah mendengar lantunan ayat suci seindah ini” jawabku dengan kagum. “Mbak enaknya kita ngobrol di ruang tamu aja ya, nggak baik kalau laki-laki dan wanita yang bukan  muhrim berkhalwat di dalam kamar seperti ini” pinta laki-laki tersebut dengan penuh kesopanan. Kami pun melangkah ke kursi ruang tamu. Posisi duduk kami sedikit berjauhan. Terlihat pandangan laki-laki tersebut sangatlah tunduk pada ketakwaan terhadap Allah. “ Kenalin nama aku Ana” sambil menyodorkan tanganku, “aku Ridwan” balasnya dengan merapatkan kedua telapak tangannya tanpa menyentuh tanganku sedikitpun. Kami pun mulai bercerita dan berbagi pengalaman, segala sesuatu tentang diriku telah kuceritakan kepadanya. “ Mbak boleh saya kasih sedikit nasihat sama mbak?, semoga dengan nasihat saya ini akan membuat kita semamkin dekat dengan Allah” katanya, “ ya boleh” jawabku. “ Mbak harus bangga dan bersyukur menjadi seorang wanita, karena wanita itu ialah tiangnya negara. Wanitalah yang mendidik anak anak menjadi seorang pemuda yang islami sebagai  perubah masa depan Rabbani. Islam memperlakukan wanita dengan sangat istimewa mbak, ia mengajarkan kepada kita untuk sangat menghormati wanita. Bahkan Islam memerintahkan wanita untuk mengulurkan jilbab hingga kedadanya bukan untuk mengekangnya, tetapi tujuannya untuk melindungi wanita dari fitnah, karena wanita itu penuh dengan perhiasan. Apakah mbak rela perhiasan yang mbak miliki dapat dinikmati oleh orang banyak? Tidak bukan?, dan sesungguhnya Allah itu dekat dan sangat sayang sekali terhadap makhlukNya mbak, Apakah mbak pernah terpikir bahwasannya Allah sayang sekali sama mbak, buktinya Allah masih memberi nikmat panjang umur sama mbak sehingga mbak selamat dari kecelakaan tersebut, maka gunakanlah sisa hidup ini untuk beribadah kepadaNya mbak” kata pemuda tersebut dengan bijak. Tidak terasa butiran permata bening mengalir di pipi bagaikan derasnya arus sungai yang mengalir tanpa adanya hambatan, kedua pipiku basah karenanya. Aku mulai sadar selama ini aku kurang bersyukur terhadap nikmat Allah, aku jarang bahkan tidak pernah bermunajat di malam hari kepadaNya selama ini, tetapi aku lebih sering menghabiskan waktuku di dunia malam yang penuh dengan lembah dosa dan nista belaka. Tangisku membuncah hingga menyebabkan dada ini terasa sesak dan perih. Setelah kejadian itu aku sangat bersyukur karena aku dapat ditunjukkan menuju cahaya Allah, sebuah cahaya yang hakiki. Akupun tidak pernah keluar malam lagi untuk mengunjungi Bar. Perlahan tetapi pasti kini kewajiban-kewajibanku sebagai muslim mulai aku penuhi, bahkan sekarangpun aku telah memutuskan untuk berhijab. Yang lebih luar biasa lagi Allah memberikan sebuah kado istimewa yaitu menakdirkan sosok pemuda yang luar biasa tersebut sebagai jodohku yang akan menjadi imamku menuju jalan akhirat nanti. Setelah beberapa bulan kedepan kamipun menjalin hubungan yang halal menuju sebuah ikatan pernikahan.
Biodata Peserta
IMG_8989.jpg
Nama               : Ridho Sopiyan Hadi
Nim                 : 10121001071
Angkatan        : 2012



­­





























Rabu, 28 November 2012

tips menulis cerpen

Menulis cerita pendek adalah salah satu hal favoritku di dunia ini. Bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Nggak butuh waktu banyak. Tentunya bikin hati senang, kecuali cerita yang ditulis sedih atau hasil curcol.
Cerita pendek menurut salah satu definisi yang kuingat adalah tulisan yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik narasi sejumlah 1000-10.000 kata. Bagiku pribadi, aku setuju dengan 1000 kata, tapi 10.000 itu terlalu banyak (kecuali bacanya dalam bentuk hardcopy atau ebook reader, macam Kindle). Dalam membuat cerpen aku sendiri membatasi jumlah kata yang kugunakan hanya sebanyak 1000-2500 kata atau sekitar 3-8 halaman A4 dengan font TNR 12 spasi 1. Sebenarnya banyak halaman ini juga bakal tergantung dari format ceritamu, penuh dialog atau padat deskripsi.
Jumlah kata yang kugunakan tersebut, menurut pengamatanku yang sering jadi silent reader di web fanfiksi atau blog orang, itu ideal untuk tipe cerpen yang ditampilkan di blog atau web. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen dengan jumlah kata sebanyak itu sekitar 5-20 menit. Kalau lebih naskah lebih banyak dari itu mendingan dipecah menjadi dua post bersambung atau pengunjung blog keburu jenuh membacanya.

Banyak penulis novel bilang, menulis cerpen nggak mudah. Sama banyaknya dengan penulis cerpen yang bilang, menulis novel itu sulit. Tantangan menulis kedua jenis tulisan tersebut memang berbeda jauh. Meskipun dasar pembuatannya hampir mirip. Menulis cerpen juga membutuhkan dasar-dasar yang sama dengan penulisan novel. Dibutuhkan karakter, plot, alur, latar cerita, dan konflik. Perbedaan paling mencolok adalah novel menceritakan sebagian hidup dari karakter, sementara cerpen menceritakan satu kejadian penting yang dialami si tokoh.
Satu kejadian penting, ini adalah kunci utama membuat cerpen. Fokus ketika membuat cerpen hanya diperlukan di sekitar kejadian itu. Tahu seluruh sejarah hidup tokoh dan seantero kota tempat cerita ditulis itu tidak mutlak diperlukan dalam menulis cerpen (bahkan kadang nggak perlu sama sekali!). Menulis cerita pendek seperti kamu sedang duduk di sebuah halte bus dan melihat sepasang kekasih bertengkar. Hingga akhirnya busmu datang dan cerita itu selesailah. Di situ nggak perlu dijelaskan apa bus yang kamu tunggu, tapi pusatkan cerita yang ditulis kepada pasangan tersebut. Siapa nama pasangan tersebut? Mengapa mereka bertengkar? Pakaian apa yang mereka pakai saat itu? Apa si pria menampar atau malah memeluk? Bagaimana ekspresi si perempuan ketika mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada si pria? Apa saja omongan yang keluar dari mulut mereka berdua?
Dan kamu dapat satu ide yang bisa kamu kembangkan menjadi cerita pendek: pasangan yang bertengkar karena kesibukan (misalnya).
Setelah mendapat ide, fokuslah kepada konflik. Di mana puncak konflik pasangan tersebut? Apakah ternyata si perempuan ikut naik bus bersamamu?
Puncak konflik ini bisa menjadi klimaks sebuah cerpen. Letaknya bisa di awal, tengah, atau akhir cerita—suka-suka penulis aja. Puncak konflik ini juga sering menjadi titik balik cerita—apa yang awalnya kamu kira begini, eh ternyata begitu. Istilah kerennya adalah twist. Dan asiknya dalam cerpen kamu bisa bikin twist yang beda 180 derajat dengan klue awal yang kamu tulis alias membuat sesuatu yang tiba-tiba (biasanya aku pakai ini di flash fiction sih).
Puncak konflik ini mudah dikenali dalam tulisan. Biasanya berupa kalimat pamungkas yang ada di tengah cerita (selain di pembuka dan penutup cerita). Atau adegan yang kemudian membuat si tokoh memikirkan hal yang berbeda dengan yang dia persepsikan di awal cerita.
Biasanya, aku menulis cerpen mulai dari menemukan puncak konflik, lalu baru kubuat benang merah ke awal dan akhir cerita.
- Awal cerita: apa yang memotivasi si karakter bisa mengalami puncak konflik tersebut? Dorongan dari dirinya atau dorongan dari orang lain?
- Anti klimaks (adegan setelah puncak konflik): bagaimana reaksi si karakter setelah mengalami/melewati puncak konflik tersebut?
Sebenarnya dua poin tersebut tergantung bagaimana format ceritanya ya. Nah, yang ini tergantung dengan alur dan POV yang dipilih.
Alur adalah aliran plot (adegan-adegan dalam cerita). Alur bisa mengalir maju mundur, maju terus pantang mundur, mundul (flash back), atau gimana kreatifnya kamu merangkai cerita. Nah, alur ini yang bakal berpengaruh dengan format tulisan kamu, seperti letak puncak konflik.
PoV (Point of view) atau sudut pandang cerita. Sudut pandang yang populer adalah sudut pandang orang pertama tunggal (Aku/Saya) dan sudut pandangan orang ketiga tunggal (Dia atau nama si karakter). Ada juga sudut pandang orang kedua (kamu/kau/engkau), tapi agak jarang digunakan, biasanya sih yang udah mahir PoV 3 atau PoV 1, bakal coba PoV 2 ini.
PoV ini menentukan sikap nanti sebagai penulis cerita. Sebagai ‘Aku’ berarti kamu memosisikan diri sebagai penulis dan tokoh sekaligus. Sebagai ‘Dia’ berarti kamu bisa sebagai pengamat (narrator) atau kamu sebagai si yang tahu segalanya (sampai ke perasaan hati si tokoh juga). ‘Aku’ punya sudut pandang sebatas yang ‘Aku’ ini ketahui, mudahnya apa yang ‘Aku’ ini lihat. Sementara menggunakan ‘Dia’ kamu bisa menceritakan apapun.
Jangan asal memilih sudut pandang, karena nggak semua sudut pandang cocok dengan genre tertentu (sebenarnya ini tergantung kemampuan penulis untuk meramu). Sudut pandang ini dibahas kapan-kapan aja deh ya.
Unsur lain dalam cerpen yang penting adalah karakter dan setting. Karena konflik itu akan hampa tanpa ada karakter yang mengalami. Setting atau latar sendiri bisa jadi sangat penting atau sekedar pelengkap saja, itu tergantung dengan kebutuhan ceritamu. Dua unsur ini perlu dipikirkan dengan baik. Latar seringkali menjadi bagian yang harus membutuhkan sedikit riset agar cerita yang ditulis bisa terasa lengkap.
Memadupadankan unsur-unsur cerita dilakukan menggunakan deskripsi-dialog. Idealnya sih, dalam cerpen kedua bagian tersebut punya proporsi sama besar. Ketika menulis cerpen kuncinya ya deskripsikan apa yang dibutuhkan dalam cerita dan tulis dialog yang diperlukan saja. Deskripsi yang kaya akan membuat pembaca lebih bisa merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Dialog dan deskripsi yang kurang penting justru akan membuat pembaca bosan.
Pemilihan deskripsi atau dialog ini juga diperlukan ketika membuka atau menutup cerpen. Seperti sebuah film, kadang ada film yang dibuka langsung dengan karakter-karakter yang mengobrol atau dibuka dengan serangkaian adegan yang menampilkan latar cerita.
Bagaimana memilih adegan pembuka dan penutup yang baik? Nah, ini memang jadi peer besar untuk semua penulis. Karena untuk bagian yang satu ini nggak mudah dijelaskan dengan teori. Perlu sering latihan menulis dan tentunya membaca untuk tahu seperti apa yang menarik untuk kita.
Jangan terpaku pada: ‘akhir kisah yang bagus adalah yang happy ending.’ Ending yang baik adalah ending yang sesuai dengan cerita yang kamu buat (tidak memaksakan kehendakmu sendiri, makin sering kamu menulis kamu akan luwes menentukan ending, atau malah karaktermu sendiri yang menentukan akhir ceritanya seperti apa—itu kalau kamu sudah tiba di tahap saat kamu kenal betul karakter tokoh dalam tulisanmu.). Ending yang baik adalah ending yang memuaskan baik untuk penulis dan pembaca. Bagaimana bentuk ending yang memuaskan itu? Jawaban ini kamu yang bisa temukan sendiri dengan lagi-lagi banyak berlatih menulis dan menyisihkan waktu untuk membaca.
Good stories are about the choices people make, and the consequences those choices have. Bad stories are about people being moved by the plot. (kutipan ini kuambil dari sini)
Menulis cerpen itu tidaklah sulit dan sangat menyenangkan. Buatku pribadi, menulis cerpen adalah eksplorasi ide-ide baru yang bisa dikembangkan menjadi novel nantinya. Aku sering memperlakukan cerpen-cerpen yang kutulis sebagai bagian dari kisah panjang yang belum kuselesaikan. Kalau kamu sering baca blogku, kamu akan tahu jika banyak cerita yang saling sambung menyambung. Itu bukan kebetulan, tapi memang disengaja. :)
Aku belajar menulis secara otodidak. Aku berani menulis ini setelah banyak mengamati teman-teman sesama penulis. Jadi, maaf kalau istilahnya kurang nyastra atau bahasanya terlalu semau-gue atau banyak typo. :p
Tulisan ini aku buat sebanyak seribu seratusan kata. Kalau kamu merasa ini terlalu singkat, berarti tulislah cerpen yang lebih panjang dari seribu seratus kata. Kalau merasa terlalu panjang, berarti kamu harus menyelipkan dialog di antaranya.
Semoga tips dariku bisa membantu. :)
dikutip dari 
Menulis cerita pendek adalah salah satu hal favoritku di dunia ini. Bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Nggak butuh waktu banyak. Tentunya bikin hati senang, kecuali cerita yang ditulis sedih atau hasil curcol.
Cerita pendek menurut salah satu definisi yang kuingat adalah tulisan yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik narasi sejumlah 1000-10.000 kata. Bagiku pribadi, aku setuju dengan 1000 kata, tapi 10.000 itu terlalu banyak (kecuali bacanya dalam bentuk hardcopy atau ebook reader, macam Kindle). Dalam membuat cerpen aku sendiri membatasi jumlah kata yang kugunakan hanya sebanyak 1000-2500 kata atau sekitar 3-8 halaman A4 dengan font TNR 12 spasi 1. Sebenarnya banyak halaman ini juga bakal tergantung dari format ceritamu, penuh dialog atau padat deskripsi.
Jumlah kata yang kugunakan tersebut, menurut pengamatanku yang sering jadi silent reader di web fanfiksi atau blog orang, itu ideal untuk tipe cerpen yang ditampilkan di blog atau web. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen dengan jumlah kata sebanyak itu sekitar 5-20 menit. Kalau lebih naskah lebih banyak dari itu mendingan dipecah menjadi dua post bersambung atau pengunjung blog keburu jenuh membacanya.

Banyak penulis novel bilang, menulis cerpen nggak mudah. Sama banyaknya dengan penulis cerpen yang bilang, menulis novel itu sulit. Tantangan menulis kedua jenis tulisan tersebut memang berbeda jauh. Meskipun dasar pembuatannya hampir mirip. Menulis cerpen juga membutuhkan dasar-dasar yang sama dengan penulisan novel. Dibutuhkan karakter, plot, alur, latar cerita, dan konflik. Perbedaan paling mencolok adalah novel menceritakan sebagian hidup dari karakter, sementara cerpen menceritakan satu kejadian penting yang dialami si tokoh.
Satu kejadian penting, ini adalah kunci utama membuat cerpen. Fokus ketika membuat cerpen hanya diperlukan di sekitar kejadian itu. Tahu seluruh sejarah hidup tokoh dan seantero kota tempat cerita ditulis itu tidak mutlak diperlukan dalam menulis cerpen (bahkan kadang nggak perlu sama sekali!). Menulis cerita pendek seperti kamu sedang duduk di sebuah halte bus dan melihat sepasang kekasih bertengkar. Hingga akhirnya busmu datang dan cerita itu selesailah. Di situ nggak perlu dijelaskan apa bus yang kamu tunggu, tapi pusatkan cerita yang ditulis kepada pasangan tersebut. Siapa nama pasangan tersebut? Mengapa mereka bertengkar? Pakaian apa yang mereka pakai saat itu? Apa si pria menampar atau malah memeluk? Bagaimana ekspresi si perempuan ketika mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada si pria? Apa saja omongan yang keluar dari mulut mereka berdua?
Dan kamu dapat satu ide yang bisa kamu kembangkan menjadi cerita pendek: pasangan yang bertengkar karena kesibukan (misalnya).
Setelah mendapat ide, fokuslah kepada konflik. Di mana puncak konflik pasangan tersebut? Apakah ternyata si perempuan ikut naik bus bersamamu?
Puncak konflik ini bisa menjadi klimaks sebuah cerpen. Letaknya bisa di awal, tengah, atau akhir cerita—suka-suka penulis aja. Puncak konflik ini juga sering menjadi titik balik cerita—apa yang awalnya kamu kira begini, eh ternyata begitu. Istilah kerennya adalah twist. Dan asiknya dalam cerpen kamu bisa bikin twist yang beda 180 derajat dengan klue awal yang kamu tulis alias membuat sesuatu yang tiba-tiba (biasanya aku pakai ini di flash fiction sih).
Puncak konflik ini mudah dikenali dalam tulisan. Biasanya berupa kalimat pamungkas yang ada di tengah cerita (selain di pembuka dan penutup cerita). Atau adegan yang kemudian membuat si tokoh memikirkan hal yang berbeda dengan yang dia persepsikan di awal cerita.
Biasanya, aku menulis cerpen mulai dari menemukan puncak konflik, lalu baru kubuat benang merah ke awal dan akhir cerita.
- Awal cerita: apa yang memotivasi si karakter bisa mengalami puncak konflik tersebut? Dorongan dari dirinya atau dorongan dari orang lain?
- Anti klimaks (adegan setelah puncak konflik): bagaimana reaksi si karakter setelah mengalami/melewati puncak konflik tersebut?
Sebenarnya dua poin tersebut tergantung bagaimana format ceritanya ya. Nah, yang ini tergantung dengan alur dan POV yang dipilih.
Alur adalah aliran plot (adegan-adegan dalam cerita). Alur bisa mengalir maju mundur, maju terus pantang mundur, mundul (flash back), atau gimana kreatifnya kamu merangkai cerita. Nah, alur ini yang bakal berpengaruh dengan format tulisan kamu, seperti letak puncak konflik.
PoV (Point of view) atau sudut pandang cerita. Sudut pandang yang populer adalah sudut pandang orang pertama tunggal (Aku/Saya) dan sudut pandangan orang ketiga tunggal (Dia atau nama si karakter). Ada juga sudut pandang orang kedua (kamu/kau/engkau), tapi agak jarang digunakan, biasanya sih yang udah mahir PoV 3 atau PoV 1, bakal coba PoV 2 ini.
PoV ini menentukan sikap nanti sebagai penulis cerita. Sebagai ‘Aku’ berarti kamu memosisikan diri sebagai penulis dan tokoh sekaligus. Sebagai ‘Dia’ berarti kamu bisa sebagai pengamat (narrator) atau kamu sebagai si yang tahu segalanya (sampai ke perasaan hati si tokoh juga). ‘Aku’ punya sudut pandang sebatas yang ‘Aku’ ini ketahui, mudahnya apa yang ‘Aku’ ini lihat. Sementara menggunakan ‘Dia’ kamu bisa menceritakan apapun.
Jangan asal memilih sudut pandang, karena nggak semua sudut pandang cocok dengan genre tertentu (sebenarnya ini tergantung kemampuan penulis untuk meramu). Sudut pandang ini dibahas kapan-kapan aja deh ya.
Unsur lain dalam cerpen yang penting adalah karakter dan setting. Karena konflik itu akan hampa tanpa ada karakter yang mengalami. Setting atau latar sendiri bisa jadi sangat penting atau sekedar pelengkap saja, itu tergantung dengan kebutuhan ceritamu. Dua unsur ini perlu dipikirkan dengan baik. Latar seringkali menjadi bagian yang harus membutuhkan sedikit riset agar cerita yang ditulis bisa terasa lengkap.
Memadupadankan unsur-unsur cerita dilakukan menggunakan deskripsi-dialog. Idealnya sih, dalam cerpen kedua bagian tersebut punya proporsi sama besar. Ketika menulis cerpen kuncinya ya deskripsikan apa yang dibutuhkan dalam cerita dan tulis dialog yang diperlukan saja. Deskripsi yang kaya akan membuat pembaca lebih bisa merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Dialog dan deskripsi yang kurang penting justru akan membuat pembaca bosan.
Pemilihan deskripsi atau dialog ini juga diperlukan ketika membuka atau menutup cerpen. Seperti sebuah film, kadang ada film yang dibuka langsung dengan karakter-karakter yang mengobrol atau dibuka dengan serangkaian adegan yang menampilkan latar cerita.
Bagaimana memilih adegan pembuka dan penutup yang baik? Nah, ini memang jadi peer besar untuk semua penulis. Karena untuk bagian yang satu ini nggak mudah dijelaskan dengan teori. Perlu sering latihan menulis dan tentunya membaca untuk tahu seperti apa yang menarik untuk kita.
Jangan terpaku pada: ‘akhir kisah yang bagus adalah yang happy ending.’ Ending yang baik adalah ending yang sesuai dengan cerita yang kamu buat (tidak memaksakan kehendakmu sendiri, makin sering kamu menulis kamu akan luwes menentukan ending, atau malah karaktermu sendiri yang menentukan akhir ceritanya seperti apa—itu kalau kamu sudah tiba di tahap saat kamu kenal betul karakter tokoh dalam tulisanmu.). Ending yang baik adalah ending yang memuaskan baik untuk penulis dan pembaca. Bagaimana bentuk ending yang memuaskan itu? Jawaban ini kamu yang bisa temukan sendiri dengan lagi-lagi banyak berlatih menulis dan menyisihkan waktu untuk membaca.
Good stories are about the choices people make, and the consequences those choices have. Bad stories are about people being moved by the plot. (kutipan ini kuambil dari sini)
Menulis cerpen itu tidaklah sulit dan sangat menyenangkan. Buatku pribadi, menulis cerpen adalah eksplorasi ide-ide baru yang bisa dikembangkan menjadi novel nantinya. Aku sering memperlakukan cerpen-cerpen yang kutulis sebagai bagian dari kisah panjang yang belum kuselesaikan. Kalau kamu sering baca blogku, kamu akan tahu jika banyak cerita yang saling sambung menyambung. Itu bukan kebetulan, tapi memang disengaja. :)
Aku belajar menulis secara otodidak. Aku berani menulis ini setelah banyak mengamati teman-teman sesama penulis. Jadi, maaf kalau istilahnya kurang nyastra atau bahasanya terlalu semau-gue atau banyak typo. :p
Tulisan ini aku buat sebanyak seribu seratusan kata. Kalau kamu merasa ini terlalu singkat, berarti tulislah cerpen yang lebih panjang dari seribu seratus kata. Kalau merasa terlalu panjang, berarti kamu harus menyelipkan dialog di antaranya.
Semoga tips dariku bisa membantu. :)

Minggu, 25 November 2012

AllAboutDuaribuDuabelasFKMUnsri :D

       Ini dia Fakultas kesehatan masyarakat Univesitas Sriwijaya angkatan 2012 saat kegiatan P2K/PK2/ lebih familiar dengan sebutan ospek kali ya. Perlu diketahui bahwa angkatan 2012 merupakan angkatan dengan jumlah mahasiswa terbanyak sepanjang fakultas ini berdiri bahkan mungkin sejak fakultas ini masih menjadi prodi yang tergabung dalam Fakultas Kedokteran. Angkatan 2012 berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang didominasi oleh daerah sumatera bagian selatan, beberapa asal daerah tempat kami berasal diantaranya Jambi, Sumatra Barat, Medan, Lampung, Bengkulu, Babel, Jawa Barat, Jakarta, Bahkan hingga Ke tanah Papua ( maaf bagi daerah yg belum tersebutkan :D). Asal daerah yang berbeda tidak membuat kami saling mendeskriditkan satu sama lain, disinilah ajang kami untuk  bertukar pikiran dalam segala hal bahkan kabar kabarnya telah ada yang terindikasi cinta lokasi hehehhe ( SIAPA DIA ORANG NYA PEMIRSA SEKALIAN?  :D ) . Seiring berjalannya waktu diharapkan angkatan 2012 dapat menjadi anggota keluarga yang lebih solid. HIDUP MAHASISWA , HIDUP FKM UNSRI!!, HIDUP 2012!!!
SALAM SEHAT !! 

Jumat, 23 November 2012

Bermula Dari Sini

bermula di gedung  inilah kami mendapatkan pengalaman yang sangat berharga yang tidak mungkin kami lupakan hingga hari tua nanti. Segala sesuatu hal kami rasakan bersama selama tiga tahun dengan naungan satu atap grha siswa sma TT sehingga memperkuat tali ukhuwah kami menjadi sebuah untaian rantai yang sulit terpisahkan. Di gedung ini aku mendapat banyak pelajaran kawan,  yang mungkin tidak bisa aku dapatkan di tempat lain. Andaikan waktu bisa ku putar aku ingin merasakan sebentar atmosfer masa lalu yang terkadang kalau difikir begitu lucu, dengan seribu aturan senioritas, dan sejuta aturan sekolah yang terkadang sedikit memberatkan. Hingga akhirnya waktu jualah yang menjawab dan mengakhiri cerita kita di gedung ini, perlu diingat bahwasannya kita mempunyai tujuan hidup masing masing yang telah digariskan Allah kawan, maka gapailah cita-cita mu setinggi langit .

Meski Kami Di Ujung Senja

Kulihat langit sore merah merona
Warnanya indah  memberi kedamaian dunia
Tapi . . .kulihat di sudut jalan sana tiada nyawa yang tersisa

 Ku lihat dengan mata peluru menghujam kedalam raga
 Aku tak tau mengapa dunia saat ini seakan-akan tuli atau bisu?
 Mungkinkah Tuhan akan murka?

Terbersit rasa di relung jiwa walau kami tak asa
Tapi kami percaya Tuhan tunjukkan jalannya

 




 

MY Generation" Titian Teras Senior High School"


Definisi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk meningkatkan sanitasi lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan, untuk diagnosa dini, pencegahan penyakit dan pengembangan aspek sosial, yang akan mendukung agar setiap orang di masyarakat mempunyai standar kehidupan yang kuat untuk menjaga kesehatannya (Profesor Winslow)