Selasa, 08 April 2014
Suntikan Nutrisi
Teringat
kata sambutan dari gubernur mahasiswa
fkm unsri “ Orang hidup itu harus
punya tujuan, jikalau kita mempunyai tujuan pastilah kita tidak akan lelah
dalam menghadapi hidup ini”. Tujuan itu penting kawan, dalam hidup kita harus memiliki
targetan sebuah pencapaian agar hidup ini penuh syarat arti dan makna.
Sama halnya dalam organisasi. Organisasi itu seperti
sebuah kehidupan yang memiliki target.
Jika sebuah organisasi itu tidak memiliki target maka tidak akan ada progress yang dihasilkan oleh
organisasi tersebut, atau boleh dikatakan organisasi tersebut mandul.
Organisasi diumpamakan sebagai sebuah wadah ataupun
lembaran kertas putih tanpa noda. Baik
buruknya tergantung oleh sumber daya manusia yang menggoreskan pena pada lembaran
kertas putih tersebut. Apakah kita
memilih untuk mengisinya dengan coretan tanpa makna? Atau mengisinya dengan
coretan cerita yang terstruktur rapi dan indah? Semua tergantung pada kita
kawan J.
Kita ini diibaratkan sebagai susunan anatomi rangka tubuh yang saling menopang
satu sama lainnya. Jikalau pada titik
awal kita telah merasa jenuh maka dapat kita estimasikan rata-rata populasi
yang ada di organisasi tidak akan ada semangat untuk kedepannya. Untuk itu
diperlukan sebuah suntikan nutrisi motivasi agar kita tidak mengalami
defisiensi semangat. Penjagaan terhadap
kader itu perlu sebagai usaha tindakan preventif dalam pencegahan penyakit lemah motivasi
diri. Tidak perlu menggunakan studi epidemiologi untuk mempelajari penyebaran
penyakit ini, yang perlu hanyalah kemampuan seni mengikat hati untuk memotivasi
diri J.
Menurut teori gordon dalam Triad segitiga epidemiologi
Host, Agent dan lingkungan haruslah seimbang.
Jika tidak, akan timbul sebuah penyakit.
Pintarlah mengatur waktu agar kuliah dan organisasi yang kita jalani
tidak timpang. Kita harus mengingat bahwa mahasiswa juga memiliki amanah dalam
hal akademik, tetapi jangan pula menempatkan akademik sebagai segalanya.
Intinya akademik dan organisasi haruslah seimbang sebagaimana yang telah dijelaskan
oleh Gordon.
Perjalan ini masih panjang kawan. Akan ada onak dan duri
yang akan menghantui diri ini untuk terus berjuang hingga titik darah
terakhir. Siapkan alat pelindung diri
terhadap segala hazard dan parasit dalam bentuk kemalasan, pencemaran pikiran
dan bentuk prilaku tidak sehat lainnya yang siap menghadang. Jikalau engkau
lalai pastilah segala macam jenis toksik akan hinggap di tubuhmu melalui
berbagai macam bentuk vektor. Oleh sebab itu pandai-pandailah dikau mendiagnosa
secara dini segala bentuk prilaku menyimpang agar terbebas dari segala bentuk
kelemahan.
Terus semngat, terus berkarya, terus berdaya dan terus
berinovasi untuk menuju FKM Madani.
Hidup Mahasiswa !!!!
By: Ridho
Sopiyan Hadi
Selasa, 18 Desember 2012
Ku Genggam CahayaMU Yang Hakiki
“Kriiiiiiiiiiiiiiing” melalui perantara udara bunyi jam beker yang
terletak di tempat tidurku merasuk kedalam telinga, akupun terbangun dari tidur
nyenyakku, waktu telah menunjukkan pukul 05.00 WIB itu artinya waktu shalat
subuh untuk pemeluk agama Islam, tetapi mataku yang masih begitu berat tertarik
oleh gravitasi kemalasan membuat kelopaknya terjatuh kembali dalam buaian tipu
muslihat setan dan membuat ku berfikir untuk memanjakan tubuh kembali. Tak
terasa aku telah terbuai oleh waktu. Setelah aku terbangun ternyata jam telah
menunjukan pukul 13.00 WIB, untungnya hari ini aku sedang libur kerja. Tiba-tiba
aku mendengar nada dering dari handphoneku
berdering, itu bertanda ada seseorang yang menghubungiku. Perlahan aku beranjak
dari tempat tidur dan meraihnya “ Haloo, siapa ya? ” tanyaku. “ Ini Lena, masak
sih kamu gak kenal dengan suaraku” jawab Lena dengan nada sedikit kesal. “ Oooh
Lena, maaf Len aku masih setengah sadar nih baru bangun tidur” kataku dengan
semangatnya. “Oh ya, Ana ntar malem kamu ada acara nggak? maen ke bar yuk
hehhe” ajak Lena, “ emmm boleh, ntar
kita ketemuan di Bar yang biasa ya” Jawabku secara spontan, tetapi di dalam
hati kecil ini terasa sangat berat. Aku mulai bosan dengan kehidupan dunia
malam yang seperti ini.
Waktu
telah menunjukkan pukul 08.00 malam, aku bersiap-siap untuk memenuhi ajakan
sahabatku Lena pergi berpesta ke Bar malam ini. Penampilanku malam ini harus
seksi dan semenarik mungkin, kupilih secara selektif pakain yang akan kukenakan
malam ini. Yah akhirnya aku menemukannya, sebuah rok mini dan baju yang serba
kekurangan bahan alias terbuka. Sekitar satu jam kuhabiskan waktu untuk
berdandan ala wanita jahiliyah, dan dengan percaya dirinya aku melangkah keluar
rumah menuju mobil pribadiku yang telah terparkir. Ku tancap gas dengan segera.
Akhirnya sampai juga aku di Bar tempat kami mengadakan janji. Akupun segera
masuk ke dalam dan mencari Lena, tidak lama setelah aku menolehkan kepalaku ka kanan
dan ke kiri mencarinya, yup itu dia aku melihatnya “ Hai Lena” panggilku dengan
suara yang sangat keras. “ Hei Ana ayo kesini udah aku pesenin nih minuman
alkoholnya” sahut Lena dengan suara yang sama keras pula. Aku segera
melangkahkan kaki dengan ringannya menuju arah Lena. “ Ini Na aku tuangin
alkoholnya ke gelas kamu, minum yang banyak ya !! pokoknya malam ini kita
bersenang senang sampai pagi Hahahahah” Celoteh Lena sambil menuangkan alkohol
ke gelasku. Segera aku arahkan gelas itu ke mulutku dan meneguk minuman keras
yang telah tersedia sambil tertawa riang. Malam semakin larut suasana di dalam
Bar semakin panas, terlihat muda mudi sangat asyik menikmati hiburan dunia yang
penuh dengan maksiat.
Malam ini aku mabuk berat, ku putuskan
untuk pulang lebih awal dari teman temanku karena besok jam 08.00 pagi aku
harus berangkat kerja. Kesadaranku saat ini sedang tidak baik karena pengaruh
alkohol yang ku konsumsi terlalu banyak, tetapi aku tetap nekat untuk
mengendarai mobil sendirian. Saat dalam perjalanan menuju rumah, aku mengalami
kecelakaan, mobilku menghantam tiang listrik yang terdapat di tepi jalan.
Kesadaranku telah seratus pesen menghilang saat itu, entah apa yang terjadi
pada diriku sedikitpun aku tidak mengetahuinya. Ketika terbangun aku telah
mendapati diriku terbaring di sebuah rumah kecil yang beratapkan seng yang
sudah tampak tua. Aku mulai menggerakkan tubuhku, “ jangan banyak bergerak nak
tubuhnu belum pulih benar” kata seorang ibu paruh baya yang duduk disampingku .
“Ibu siapa? Kenapa saya bisa berada di sini bu?” tanyaku dengan heran. “ Nama
ibu Nining, ibu mendapatimu sedang mendapatkan kecelakaan dan kondisimu begitu
mengkhawatirkan saat itu nak, ibu bingung mau minta tolong sama siapa, ibu
khawatir jika kamu tidak segera ditolong nyawamu akan terancam, oleh karena itu
ibu memberanikan diri untuk menolongmu, sungguh ibu tidak ada maksud lain nak,
ibu lakukan ini karena Allah” Jawab wanita tua itu sambil tersenyum hangat.
Akupun membalas senyum hangatnya seraya megucapkan terima kasih banyak
kepadanya. “ Tidak usah terlalu berterimakasih kepada ibu nak, tetapi berterima
kasihlah engkau kepada Allah dengan banyak-banyak bersyukur. Karena Dialah
sesungguhnya yang telah memeliharamu, dan melindungimu dari maut yang hampir menimpamu”
Jawab Wanita tersebut dengan nada yang begitu lirih. Entah mengapa hatiku merasa bergetar dan tubuhku merinding
saat wanita tersebut menyebut nama Allah . Aku merasa begitu mendustakan
nikmatNya selama ini.
“Nak ibu mau pergi ke pasar dulu ya
membeli sayuran untuk makan siang kita nanti, kalau ada perlu sesuatu panggil
aja anak ibu, namanya Ridwan” kata wanita sambil tersenyum. “ Oh baik Bu”
kataku membalas ucapannya. Kata-kata nasihat yang diberikan wanita itu terus
terngiang di benakku. Tiba-tiba aku mendengar seorang lelaki yang sedang
melantunkan ayat Allah dengan sangat merdu. Aku mencari sumber suara tersebut,
yah arahnya dari kamar kecil tepat di sebelah kiri posisi berdiriku sekarang.
Perlahan aku membuka pintu kamar tersebut “permisi, maaf kalau saya mengganggu”
kataku dengan nada sedikit sungkan. Terlihat ekspresi lelaki itu begitu kaget
saat aku membuka pintu kamarnya. “ Ya ada yang bisa saya bantu mbak?” katanya
agak sedikit grogi. “ Emm nggak kok aku tadi cuma penasaran pengen liat siapa
yang ngaji, jujur suara kamu bagus banget, rasanya aku belum pernah mendengar
lantunan ayat suci seindah ini” jawabku dengan kagum. “Mbak enaknya kita
ngobrol di ruang tamu aja ya, nggak baik kalau laki-laki dan wanita yang
bukan muhrim berkhalwat di dalam kamar
seperti ini” pinta laki-laki tersebut dengan penuh kesopanan. Kami pun
melangkah ke kursi ruang tamu. Posisi duduk kami sedikit berjauhan. Terlihat
pandangan laki-laki tersebut sangatlah tunduk pada ketakwaan terhadap Allah. “
Kenalin nama aku Ana” sambil menyodorkan tanganku, “aku Ridwan” balasnya dengan
merapatkan kedua telapak tangannya tanpa menyentuh tanganku sedikitpun. Kami
pun mulai bercerita dan berbagi pengalaman, segala sesuatu tentang diriku telah
kuceritakan kepadanya. “ Mbak boleh saya kasih sedikit nasihat sama mbak?,
semoga dengan nasihat saya ini akan membuat kita semamkin dekat dengan Allah”
katanya, “ ya boleh” jawabku. “ Mbak harus bangga dan bersyukur menjadi seorang
wanita, karena wanita itu ialah tiangnya negara. Wanitalah yang mendidik anak
anak menjadi seorang pemuda yang islami sebagai
perubah masa depan Rabbani. Islam memperlakukan wanita dengan sangat
istimewa mbak, ia mengajarkan kepada kita untuk sangat menghormati wanita.
Bahkan Islam memerintahkan wanita untuk mengulurkan jilbab hingga kedadanya
bukan untuk mengekangnya, tetapi tujuannya untuk melindungi wanita dari fitnah,
karena wanita itu penuh dengan perhiasan. Apakah mbak rela perhiasan yang mbak
miliki dapat dinikmati oleh orang banyak? Tidak bukan?, dan sesungguhnya Allah
itu dekat dan sangat sayang sekali terhadap makhlukNya mbak, Apakah mbak pernah
terpikir bahwasannya Allah sayang sekali sama mbak, buktinya Allah masih
memberi nikmat panjang umur sama mbak sehingga mbak selamat dari kecelakaan
tersebut, maka gunakanlah sisa hidup ini untuk beribadah kepadaNya mbak” kata
pemuda tersebut dengan bijak. Tidak terasa butiran permata bening mengalir di
pipi bagaikan derasnya arus sungai yang mengalir tanpa adanya hambatan, kedua
pipiku basah karenanya. Aku mulai sadar selama ini aku kurang bersyukur
terhadap nikmat Allah, aku jarang bahkan tidak pernah bermunajat di malam hari
kepadaNya selama ini, tetapi aku lebih sering menghabiskan waktuku di dunia
malam yang penuh dengan lembah dosa dan nista belaka. Tangisku membuncah hingga
menyebabkan dada ini terasa sesak dan perih. Setelah kejadian itu aku sangat
bersyukur karena aku dapat ditunjukkan menuju cahaya Allah, sebuah cahaya yang
hakiki. Akupun tidak pernah keluar malam lagi untuk mengunjungi Bar. Perlahan
tetapi pasti kini kewajiban-kewajibanku sebagai muslim mulai aku penuhi, bahkan
sekarangpun aku telah memutuskan untuk berhijab. Yang lebih luar biasa lagi
Allah memberikan sebuah kado istimewa yaitu menakdirkan sosok pemuda yang luar
biasa tersebut sebagai jodohku yang akan menjadi imamku menuju jalan akhirat
nanti. Setelah beberapa bulan kedepan kamipun menjalin hubungan yang halal
menuju sebuah ikatan pernikahan.
Biodata Peserta

Nama : Ridho Sopiyan Hadi
Nim : 10121001071
Angkatan : 2012
Rabu, 28 November 2012
tips menulis cerpen
Menulis cerita pendek adalah salah satu hal favoritku di dunia ini.
Bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Nggak butuh waktu banyak.
Tentunya bikin hati senang, kecuali cerita yang ditulis sedih atau hasil
curcol.
Cerita pendek menurut salah satu definisi yang kuingat adalah tulisan yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik narasi sejumlah 1000-10.000 kata. Bagiku pribadi, aku setuju dengan 1000 kata, tapi 10.000 itu terlalu banyak (kecuali bacanya dalam bentuk hardcopy atau ebook reader, macam Kindle). Dalam membuat cerpen aku sendiri membatasi jumlah kata yang kugunakan hanya sebanyak 1000-2500 kata atau sekitar 3-8 halaman A4 dengan font TNR 12 spasi 1. Sebenarnya banyak halaman ini juga bakal tergantung dari format ceritamu, penuh dialog atau padat deskripsi.
Jumlah kata yang kugunakan tersebut, menurut pengamatanku yang sering jadi silent reader di web fanfiksi atau blog orang, itu ideal untuk tipe cerpen yang ditampilkan di blog atau web. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen dengan jumlah kata sebanyak itu sekitar 5-20 menit. Kalau lebih naskah lebih banyak dari itu mendingan dipecah menjadi dua post bersambung atau pengunjung blog keburu jenuh membacanya.
Banyak penulis novel bilang, menulis cerpen nggak mudah. Sama banyaknya dengan penulis cerpen yang bilang, menulis novel itu sulit. Tantangan menulis kedua jenis tulisan tersebut memang berbeda jauh. Meskipun dasar pembuatannya hampir mirip. Menulis cerpen juga membutuhkan dasar-dasar yang sama dengan penulisan novel. Dibutuhkan karakter, plot, alur, latar cerita, dan konflik. Perbedaan paling mencolok adalah novel menceritakan sebagian hidup dari karakter, sementara cerpen menceritakan satu kejadian penting yang dialami si tokoh.
Satu kejadian penting, ini adalah kunci utama membuat cerpen. Fokus ketika membuat cerpen hanya diperlukan di sekitar kejadian itu. Tahu seluruh sejarah hidup tokoh dan seantero kota tempat cerita ditulis itu tidak mutlak diperlukan dalam menulis cerpen (bahkan kadang nggak perlu sama sekali!). Menulis cerita pendek seperti kamu sedang duduk di sebuah halte bus dan melihat sepasang kekasih bertengkar. Hingga akhirnya busmu datang dan cerita itu selesailah. Di situ nggak perlu dijelaskan apa bus yang kamu tunggu, tapi pusatkan cerita yang ditulis kepada pasangan tersebut. Siapa nama pasangan tersebut? Mengapa mereka bertengkar? Pakaian apa yang mereka pakai saat itu? Apa si pria menampar atau malah memeluk? Bagaimana ekspresi si perempuan ketika mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada si pria? Apa saja omongan yang keluar dari mulut mereka berdua?
Dan kamu dapat satu ide yang bisa kamu kembangkan menjadi cerita pendek: pasangan yang bertengkar karena kesibukan (misalnya).
Setelah mendapat ide, fokuslah kepada konflik. Di mana puncak konflik pasangan tersebut? Apakah ternyata si perempuan ikut naik bus bersamamu?
Puncak konflik ini bisa menjadi klimaks sebuah cerpen. Letaknya bisa di awal, tengah, atau akhir cerita—suka-suka penulis aja. Puncak konflik ini juga sering menjadi titik balik cerita—apa yang awalnya kamu kira begini, eh ternyata begitu. Istilah kerennya adalah twist. Dan asiknya dalam cerpen kamu bisa bikin twist yang beda 180 derajat dengan klue awal yang kamu tulis alias membuat sesuatu yang tiba-tiba (biasanya aku pakai ini di flash fiction sih).
Puncak konflik ini mudah dikenali dalam tulisan. Biasanya berupa kalimat pamungkas yang ada di tengah cerita (selain di pembuka dan penutup cerita). Atau adegan yang kemudian membuat si tokoh memikirkan hal yang berbeda dengan yang dia persepsikan di awal cerita.
Biasanya, aku menulis cerpen mulai dari menemukan puncak konflik, lalu baru kubuat benang merah ke awal dan akhir cerita.
- Awal cerita: apa yang memotivasi si karakter bisa mengalami puncak konflik tersebut? Dorongan dari dirinya atau dorongan dari orang lain?
- Anti klimaks (adegan setelah puncak konflik): bagaimana reaksi si karakter setelah mengalami/melewati puncak konflik tersebut?
Sebenarnya dua poin tersebut tergantung bagaimana format ceritanya ya. Nah, yang ini tergantung dengan alur dan POV yang dipilih.
Alur adalah aliran plot (adegan-adegan dalam cerita). Alur bisa mengalir maju mundur, maju terus pantang mundur, mundul (flash back), atau gimana kreatifnya kamu merangkai cerita. Nah, alur ini yang bakal berpengaruh dengan format tulisan kamu, seperti letak puncak konflik.
PoV (Point of view) atau sudut pandang cerita. Sudut pandang yang populer adalah sudut pandang orang pertama tunggal (Aku/Saya) dan sudut pandangan orang ketiga tunggal (Dia atau nama si karakter). Ada juga sudut pandang orang kedua (kamu/kau/engkau), tapi agak jarang digunakan, biasanya sih yang udah mahir PoV 3 atau PoV 1, bakal coba PoV 2 ini.
PoV ini menentukan sikap nanti sebagai penulis cerita. Sebagai ‘Aku’ berarti kamu memosisikan diri sebagai penulis dan tokoh sekaligus. Sebagai ‘Dia’ berarti kamu bisa sebagai pengamat (narrator) atau kamu sebagai si yang tahu segalanya (sampai ke perasaan hati si tokoh juga). ‘Aku’ punya sudut pandang sebatas yang ‘Aku’ ini ketahui, mudahnya apa yang ‘Aku’ ini lihat. Sementara menggunakan ‘Dia’ kamu bisa menceritakan apapun.
Jangan asal memilih sudut pandang, karena nggak semua sudut pandang cocok dengan genre tertentu (sebenarnya ini tergantung kemampuan penulis untuk meramu). Sudut pandang ini dibahas kapan-kapan aja deh ya.
Unsur lain dalam cerpen yang penting adalah karakter dan setting. Karena konflik itu akan hampa tanpa ada karakter yang mengalami. Setting atau latar sendiri bisa jadi sangat penting atau sekedar pelengkap saja, itu tergantung dengan kebutuhan ceritamu. Dua unsur ini perlu dipikirkan dengan baik. Latar seringkali menjadi bagian yang harus membutuhkan sedikit riset agar cerita yang ditulis bisa terasa lengkap.
Memadupadankan unsur-unsur cerita dilakukan menggunakan deskripsi-dialog. Idealnya sih, dalam cerpen kedua bagian tersebut punya proporsi sama besar. Ketika menulis cerpen kuncinya ya deskripsikan apa yang dibutuhkan dalam cerita dan tulis dialog yang diperlukan saja. Deskripsi yang kaya akan membuat pembaca lebih bisa merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Dialog dan deskripsi yang kurang penting justru akan membuat pembaca bosan.
Pemilihan deskripsi atau dialog ini juga diperlukan ketika membuka atau menutup cerpen. Seperti sebuah film, kadang ada film yang dibuka langsung dengan karakter-karakter yang mengobrol atau dibuka dengan serangkaian adegan yang menampilkan latar cerita.
Bagaimana memilih adegan pembuka dan penutup yang baik? Nah, ini memang jadi peer besar untuk semua penulis. Karena untuk bagian yang satu ini nggak mudah dijelaskan dengan teori. Perlu sering latihan menulis dan tentunya membaca untuk tahu seperti apa yang menarik untuk kita.
Jangan terpaku pada: ‘akhir kisah yang bagus adalah yang happy ending.’ Ending yang baik adalah ending yang sesuai dengan cerita yang kamu buat (tidak memaksakan kehendakmu sendiri, makin sering kamu menulis kamu akan luwes menentukan ending, atau malah karaktermu sendiri yang menentukan akhir ceritanya seperti apa—itu kalau kamu sudah tiba di tahap saat kamu kenal betul karakter tokoh dalam tulisanmu.). Ending yang baik adalah ending yang memuaskan baik untuk penulis dan pembaca. Bagaimana bentuk ending yang memuaskan itu? Jawaban ini kamu yang bisa temukan sendiri dengan lagi-lagi banyak berlatih menulis dan menyisihkan waktu untuk membaca.
Good stories are about the choices people make, and the consequences those choices have. Bad stories are about people being moved by the plot. (kutipan ini kuambil dari sini)
Menulis cerpen itu tidaklah sulit dan sangat menyenangkan. Buatku pribadi, menulis cerpen adalah eksplorasi ide-ide baru yang bisa dikembangkan menjadi novel nantinya. Aku sering memperlakukan cerpen-cerpen yang kutulis sebagai bagian dari kisah panjang yang belum kuselesaikan. Kalau kamu sering baca blogku, kamu akan tahu jika banyak cerita yang saling sambung menyambung. Itu bukan kebetulan, tapi memang disengaja.
Aku belajar menulis secara otodidak. Aku berani menulis ini setelah banyak mengamati teman-teman sesama penulis. Jadi, maaf kalau istilahnya kurang nyastra atau bahasanya terlalu semau-gue atau banyak typo. :p
Tulisan ini aku buat sebanyak seribu seratusan kata. Kalau kamu merasa ini terlalu singkat, berarti tulislah cerpen yang lebih panjang dari seribu seratus kata. Kalau merasa terlalu panjang, berarti kamu harus menyelipkan dialog di antaranya.
Semoga tips dariku bisa membantu.
dikutip dari
Menulis cerita pendek adalah salah satu hal favoritku di dunia ini. Bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Nggak butuh waktu banyak. Tentunya bikin hati senang, kecuali cerita yang ditulis sedih atau hasil curcol.
Cerita pendek menurut salah satu definisi yang kuingat adalah tulisan yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik narasi sejumlah 1000-10.000 kata. Bagiku pribadi, aku setuju dengan 1000 kata, tapi 10.000 itu terlalu banyak (kecuali bacanya dalam bentuk hardcopy atau ebook reader, macam Kindle). Dalam membuat cerpen aku sendiri membatasi jumlah kata yang kugunakan hanya sebanyak 1000-2500 kata atau sekitar 3-8 halaman A4 dengan font TNR 12 spasi 1. Sebenarnya banyak halaman ini juga bakal tergantung dari format ceritamu, penuh dialog atau padat deskripsi.
Jumlah kata yang kugunakan tersebut, menurut pengamatanku yang sering jadi silent reader di web fanfiksi atau blog orang, itu ideal untuk tipe cerpen yang ditampilkan di blog atau web. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen dengan jumlah kata sebanyak itu sekitar 5-20 menit. Kalau lebih naskah lebih banyak dari itu mendingan dipecah menjadi dua post bersambung atau pengunjung blog keburu jenuh membacanya.
Banyak penulis novel bilang, menulis cerpen nggak mudah. Sama banyaknya dengan penulis cerpen yang bilang, menulis novel itu sulit. Tantangan menulis kedua jenis tulisan tersebut memang berbeda jauh. Meskipun dasar pembuatannya hampir mirip. Menulis cerpen juga membutuhkan dasar-dasar yang sama dengan penulisan novel. Dibutuhkan karakter, plot, alur, latar cerita, dan konflik. Perbedaan paling mencolok adalah novel menceritakan sebagian hidup dari karakter, sementara cerpen menceritakan satu kejadian penting yang dialami si tokoh.
Satu kejadian penting, ini adalah kunci utama membuat cerpen. Fokus ketika membuat cerpen hanya diperlukan di sekitar kejadian itu. Tahu seluruh sejarah hidup tokoh dan seantero kota tempat cerita ditulis itu tidak mutlak diperlukan dalam menulis cerpen (bahkan kadang nggak perlu sama sekali!). Menulis cerita pendek seperti kamu sedang duduk di sebuah halte bus dan melihat sepasang kekasih bertengkar. Hingga akhirnya busmu datang dan cerita itu selesailah. Di situ nggak perlu dijelaskan apa bus yang kamu tunggu, tapi pusatkan cerita yang ditulis kepada pasangan tersebut. Siapa nama pasangan tersebut? Mengapa mereka bertengkar? Pakaian apa yang mereka pakai saat itu? Apa si pria menampar atau malah memeluk? Bagaimana ekspresi si perempuan ketika mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada si pria? Apa saja omongan yang keluar dari mulut mereka berdua?
Dan kamu dapat satu ide yang bisa kamu kembangkan menjadi cerita pendek: pasangan yang bertengkar karena kesibukan (misalnya).
Setelah mendapat ide, fokuslah kepada konflik. Di mana puncak konflik pasangan tersebut? Apakah ternyata si perempuan ikut naik bus bersamamu?
Puncak konflik ini bisa menjadi klimaks sebuah cerpen. Letaknya bisa di awal, tengah, atau akhir cerita—suka-suka penulis aja. Puncak konflik ini juga sering menjadi titik balik cerita—apa yang awalnya kamu kira begini, eh ternyata begitu. Istilah kerennya adalah twist. Dan asiknya dalam cerpen kamu bisa bikin twist yang beda 180 derajat dengan klue awal yang kamu tulis alias membuat sesuatu yang tiba-tiba (biasanya aku pakai ini di flash fiction sih).
Puncak konflik ini mudah dikenali dalam tulisan. Biasanya berupa kalimat pamungkas yang ada di tengah cerita (selain di pembuka dan penutup cerita). Atau adegan yang kemudian membuat si tokoh memikirkan hal yang berbeda dengan yang dia persepsikan di awal cerita.
Biasanya, aku menulis cerpen mulai dari menemukan puncak konflik, lalu baru kubuat benang merah ke awal dan akhir cerita.
- Awal cerita: apa yang memotivasi si karakter bisa mengalami puncak konflik tersebut? Dorongan dari dirinya atau dorongan dari orang lain?
- Anti klimaks (adegan setelah puncak konflik): bagaimana reaksi si karakter setelah mengalami/melewati puncak konflik tersebut?
Sebenarnya dua poin tersebut tergantung bagaimana format ceritanya ya. Nah, yang ini tergantung dengan alur dan POV yang dipilih.
Alur adalah aliran plot (adegan-adegan dalam cerita). Alur bisa mengalir maju mundur, maju terus pantang mundur, mundul (flash back), atau gimana kreatifnya kamu merangkai cerita. Nah, alur ini yang bakal berpengaruh dengan format tulisan kamu, seperti letak puncak konflik.
PoV (Point of view) atau sudut pandang cerita. Sudut pandang yang populer adalah sudut pandang orang pertama tunggal (Aku/Saya) dan sudut pandangan orang ketiga tunggal (Dia atau nama si karakter). Ada juga sudut pandang orang kedua (kamu/kau/engkau), tapi agak jarang digunakan, biasanya sih yang udah mahir PoV 3 atau PoV 1, bakal coba PoV 2 ini.
PoV ini menentukan sikap nanti sebagai penulis cerita. Sebagai ‘Aku’ berarti kamu memosisikan diri sebagai penulis dan tokoh sekaligus. Sebagai ‘Dia’ berarti kamu bisa sebagai pengamat (narrator) atau kamu sebagai si yang tahu segalanya (sampai ke perasaan hati si tokoh juga). ‘Aku’ punya sudut pandang sebatas yang ‘Aku’ ini ketahui, mudahnya apa yang ‘Aku’ ini lihat. Sementara menggunakan ‘Dia’ kamu bisa menceritakan apapun.
Jangan asal memilih sudut pandang, karena nggak semua sudut pandang cocok dengan genre tertentu (sebenarnya ini tergantung kemampuan penulis untuk meramu). Sudut pandang ini dibahas kapan-kapan aja deh ya.
Unsur lain dalam cerpen yang penting adalah karakter dan setting. Karena konflik itu akan hampa tanpa ada karakter yang mengalami. Setting atau latar sendiri bisa jadi sangat penting atau sekedar pelengkap saja, itu tergantung dengan kebutuhan ceritamu. Dua unsur ini perlu dipikirkan dengan baik. Latar seringkali menjadi bagian yang harus membutuhkan sedikit riset agar cerita yang ditulis bisa terasa lengkap.
Memadupadankan unsur-unsur cerita dilakukan menggunakan deskripsi-dialog. Idealnya sih, dalam cerpen kedua bagian tersebut punya proporsi sama besar. Ketika menulis cerpen kuncinya ya deskripsikan apa yang dibutuhkan dalam cerita dan tulis dialog yang diperlukan saja. Deskripsi yang kaya akan membuat pembaca lebih bisa merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Dialog dan deskripsi yang kurang penting justru akan membuat pembaca bosan.
Pemilihan deskripsi atau dialog ini juga diperlukan ketika membuka atau menutup cerpen. Seperti sebuah film, kadang ada film yang dibuka langsung dengan karakter-karakter yang mengobrol atau dibuka dengan serangkaian adegan yang menampilkan latar cerita.
Bagaimana memilih adegan pembuka dan penutup yang baik? Nah, ini memang jadi peer besar untuk semua penulis. Karena untuk bagian yang satu ini nggak mudah dijelaskan dengan teori. Perlu sering latihan menulis dan tentunya membaca untuk tahu seperti apa yang menarik untuk kita.
Jangan terpaku pada: ‘akhir kisah yang bagus adalah yang happy ending.’ Ending yang baik adalah ending yang sesuai dengan cerita yang kamu buat (tidak memaksakan kehendakmu sendiri, makin sering kamu menulis kamu akan luwes menentukan ending, atau malah karaktermu sendiri yang menentukan akhir ceritanya seperti apa—itu kalau kamu sudah tiba di tahap saat kamu kenal betul karakter tokoh dalam tulisanmu.). Ending yang baik adalah ending yang memuaskan baik untuk penulis dan pembaca. Bagaimana bentuk ending yang memuaskan itu? Jawaban ini kamu yang bisa temukan sendiri dengan lagi-lagi banyak berlatih menulis dan menyisihkan waktu untuk membaca.
Good stories are about the choices people make, and the consequences those choices have. Bad stories are about people being moved by the plot. (kutipan ini kuambil dari sini)
Menulis cerpen itu tidaklah sulit dan sangat menyenangkan. Buatku pribadi, menulis cerpen adalah eksplorasi ide-ide baru yang bisa dikembangkan menjadi novel nantinya. Aku sering memperlakukan cerpen-cerpen yang kutulis sebagai bagian dari kisah panjang yang belum kuselesaikan. Kalau kamu sering baca blogku, kamu akan tahu jika banyak cerita yang saling sambung menyambung. Itu bukan kebetulan, tapi memang disengaja.
Aku belajar menulis secara otodidak. Aku berani menulis ini setelah banyak mengamati teman-teman sesama penulis. Jadi, maaf kalau istilahnya kurang nyastra atau bahasanya terlalu semau-gue atau banyak typo. :p
Tulisan ini aku buat sebanyak seribu seratusan kata. Kalau kamu merasa ini terlalu singkat, berarti tulislah cerpen yang lebih panjang dari seribu seratus kata. Kalau merasa terlalu panjang, berarti kamu harus menyelipkan dialog di antaranya.
Semoga tips dariku bisa membantu.
Cerita pendek menurut salah satu definisi yang kuingat adalah tulisan yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik narasi sejumlah 1000-10.000 kata. Bagiku pribadi, aku setuju dengan 1000 kata, tapi 10.000 itu terlalu banyak (kecuali bacanya dalam bentuk hardcopy atau ebook reader, macam Kindle). Dalam membuat cerpen aku sendiri membatasi jumlah kata yang kugunakan hanya sebanyak 1000-2500 kata atau sekitar 3-8 halaman A4 dengan font TNR 12 spasi 1. Sebenarnya banyak halaman ini juga bakal tergantung dari format ceritamu, penuh dialog atau padat deskripsi.
Jumlah kata yang kugunakan tersebut, menurut pengamatanku yang sering jadi silent reader di web fanfiksi atau blog orang, itu ideal untuk tipe cerpen yang ditampilkan di blog atau web. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen dengan jumlah kata sebanyak itu sekitar 5-20 menit. Kalau lebih naskah lebih banyak dari itu mendingan dipecah menjadi dua post bersambung atau pengunjung blog keburu jenuh membacanya.
Banyak penulis novel bilang, menulis cerpen nggak mudah. Sama banyaknya dengan penulis cerpen yang bilang, menulis novel itu sulit. Tantangan menulis kedua jenis tulisan tersebut memang berbeda jauh. Meskipun dasar pembuatannya hampir mirip. Menulis cerpen juga membutuhkan dasar-dasar yang sama dengan penulisan novel. Dibutuhkan karakter, plot, alur, latar cerita, dan konflik. Perbedaan paling mencolok adalah novel menceritakan sebagian hidup dari karakter, sementara cerpen menceritakan satu kejadian penting yang dialami si tokoh.
Satu kejadian penting, ini adalah kunci utama membuat cerpen. Fokus ketika membuat cerpen hanya diperlukan di sekitar kejadian itu. Tahu seluruh sejarah hidup tokoh dan seantero kota tempat cerita ditulis itu tidak mutlak diperlukan dalam menulis cerpen (bahkan kadang nggak perlu sama sekali!). Menulis cerita pendek seperti kamu sedang duduk di sebuah halte bus dan melihat sepasang kekasih bertengkar. Hingga akhirnya busmu datang dan cerita itu selesailah. Di situ nggak perlu dijelaskan apa bus yang kamu tunggu, tapi pusatkan cerita yang ditulis kepada pasangan tersebut. Siapa nama pasangan tersebut? Mengapa mereka bertengkar? Pakaian apa yang mereka pakai saat itu? Apa si pria menampar atau malah memeluk? Bagaimana ekspresi si perempuan ketika mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada si pria? Apa saja omongan yang keluar dari mulut mereka berdua?
Dan kamu dapat satu ide yang bisa kamu kembangkan menjadi cerita pendek: pasangan yang bertengkar karena kesibukan (misalnya).
Setelah mendapat ide, fokuslah kepada konflik. Di mana puncak konflik pasangan tersebut? Apakah ternyata si perempuan ikut naik bus bersamamu?
Puncak konflik ini bisa menjadi klimaks sebuah cerpen. Letaknya bisa di awal, tengah, atau akhir cerita—suka-suka penulis aja. Puncak konflik ini juga sering menjadi titik balik cerita—apa yang awalnya kamu kira begini, eh ternyata begitu. Istilah kerennya adalah twist. Dan asiknya dalam cerpen kamu bisa bikin twist yang beda 180 derajat dengan klue awal yang kamu tulis alias membuat sesuatu yang tiba-tiba (biasanya aku pakai ini di flash fiction sih).
Puncak konflik ini mudah dikenali dalam tulisan. Biasanya berupa kalimat pamungkas yang ada di tengah cerita (selain di pembuka dan penutup cerita). Atau adegan yang kemudian membuat si tokoh memikirkan hal yang berbeda dengan yang dia persepsikan di awal cerita.
Biasanya, aku menulis cerpen mulai dari menemukan puncak konflik, lalu baru kubuat benang merah ke awal dan akhir cerita.
- Awal cerita: apa yang memotivasi si karakter bisa mengalami puncak konflik tersebut? Dorongan dari dirinya atau dorongan dari orang lain?
- Anti klimaks (adegan setelah puncak konflik): bagaimana reaksi si karakter setelah mengalami/melewati puncak konflik tersebut?
Sebenarnya dua poin tersebut tergantung bagaimana format ceritanya ya. Nah, yang ini tergantung dengan alur dan POV yang dipilih.
Alur adalah aliran plot (adegan-adegan dalam cerita). Alur bisa mengalir maju mundur, maju terus pantang mundur, mundul (flash back), atau gimana kreatifnya kamu merangkai cerita. Nah, alur ini yang bakal berpengaruh dengan format tulisan kamu, seperti letak puncak konflik.
PoV (Point of view) atau sudut pandang cerita. Sudut pandang yang populer adalah sudut pandang orang pertama tunggal (Aku/Saya) dan sudut pandangan orang ketiga tunggal (Dia atau nama si karakter). Ada juga sudut pandang orang kedua (kamu/kau/engkau), tapi agak jarang digunakan, biasanya sih yang udah mahir PoV 3 atau PoV 1, bakal coba PoV 2 ini.
PoV ini menentukan sikap nanti sebagai penulis cerita. Sebagai ‘Aku’ berarti kamu memosisikan diri sebagai penulis dan tokoh sekaligus. Sebagai ‘Dia’ berarti kamu bisa sebagai pengamat (narrator) atau kamu sebagai si yang tahu segalanya (sampai ke perasaan hati si tokoh juga). ‘Aku’ punya sudut pandang sebatas yang ‘Aku’ ini ketahui, mudahnya apa yang ‘Aku’ ini lihat. Sementara menggunakan ‘Dia’ kamu bisa menceritakan apapun.
Jangan asal memilih sudut pandang, karena nggak semua sudut pandang cocok dengan genre tertentu (sebenarnya ini tergantung kemampuan penulis untuk meramu). Sudut pandang ini dibahas kapan-kapan aja deh ya.
Unsur lain dalam cerpen yang penting adalah karakter dan setting. Karena konflik itu akan hampa tanpa ada karakter yang mengalami. Setting atau latar sendiri bisa jadi sangat penting atau sekedar pelengkap saja, itu tergantung dengan kebutuhan ceritamu. Dua unsur ini perlu dipikirkan dengan baik. Latar seringkali menjadi bagian yang harus membutuhkan sedikit riset agar cerita yang ditulis bisa terasa lengkap.
Memadupadankan unsur-unsur cerita dilakukan menggunakan deskripsi-dialog. Idealnya sih, dalam cerpen kedua bagian tersebut punya proporsi sama besar. Ketika menulis cerpen kuncinya ya deskripsikan apa yang dibutuhkan dalam cerita dan tulis dialog yang diperlukan saja. Deskripsi yang kaya akan membuat pembaca lebih bisa merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Dialog dan deskripsi yang kurang penting justru akan membuat pembaca bosan.
Pemilihan deskripsi atau dialog ini juga diperlukan ketika membuka atau menutup cerpen. Seperti sebuah film, kadang ada film yang dibuka langsung dengan karakter-karakter yang mengobrol atau dibuka dengan serangkaian adegan yang menampilkan latar cerita.
Bagaimana memilih adegan pembuka dan penutup yang baik? Nah, ini memang jadi peer besar untuk semua penulis. Karena untuk bagian yang satu ini nggak mudah dijelaskan dengan teori. Perlu sering latihan menulis dan tentunya membaca untuk tahu seperti apa yang menarik untuk kita.
Jangan terpaku pada: ‘akhir kisah yang bagus adalah yang happy ending.’ Ending yang baik adalah ending yang sesuai dengan cerita yang kamu buat (tidak memaksakan kehendakmu sendiri, makin sering kamu menulis kamu akan luwes menentukan ending, atau malah karaktermu sendiri yang menentukan akhir ceritanya seperti apa—itu kalau kamu sudah tiba di tahap saat kamu kenal betul karakter tokoh dalam tulisanmu.). Ending yang baik adalah ending yang memuaskan baik untuk penulis dan pembaca. Bagaimana bentuk ending yang memuaskan itu? Jawaban ini kamu yang bisa temukan sendiri dengan lagi-lagi banyak berlatih menulis dan menyisihkan waktu untuk membaca.
Good stories are about the choices people make, and the consequences those choices have. Bad stories are about people being moved by the plot. (kutipan ini kuambil dari sini)
Menulis cerpen itu tidaklah sulit dan sangat menyenangkan. Buatku pribadi, menulis cerpen adalah eksplorasi ide-ide baru yang bisa dikembangkan menjadi novel nantinya. Aku sering memperlakukan cerpen-cerpen yang kutulis sebagai bagian dari kisah panjang yang belum kuselesaikan. Kalau kamu sering baca blogku, kamu akan tahu jika banyak cerita yang saling sambung menyambung. Itu bukan kebetulan, tapi memang disengaja.
Aku belajar menulis secara otodidak. Aku berani menulis ini setelah banyak mengamati teman-teman sesama penulis. Jadi, maaf kalau istilahnya kurang nyastra atau bahasanya terlalu semau-gue atau banyak typo. :p
Tulisan ini aku buat sebanyak seribu seratusan kata. Kalau kamu merasa ini terlalu singkat, berarti tulislah cerpen yang lebih panjang dari seribu seratus kata. Kalau merasa terlalu panjang, berarti kamu harus menyelipkan dialog di antaranya.
Semoga tips dariku bisa membantu.
dikutip dari
Menulis cerita pendek adalah salah satu hal favoritku di dunia ini. Bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Nggak butuh waktu banyak. Tentunya bikin hati senang, kecuali cerita yang ditulis sedih atau hasil curcol.
Cerita pendek menurut salah satu definisi yang kuingat adalah tulisan yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik narasi sejumlah 1000-10.000 kata. Bagiku pribadi, aku setuju dengan 1000 kata, tapi 10.000 itu terlalu banyak (kecuali bacanya dalam bentuk hardcopy atau ebook reader, macam Kindle). Dalam membuat cerpen aku sendiri membatasi jumlah kata yang kugunakan hanya sebanyak 1000-2500 kata atau sekitar 3-8 halaman A4 dengan font TNR 12 spasi 1. Sebenarnya banyak halaman ini juga bakal tergantung dari format ceritamu, penuh dialog atau padat deskripsi.
Jumlah kata yang kugunakan tersebut, menurut pengamatanku yang sering jadi silent reader di web fanfiksi atau blog orang, itu ideal untuk tipe cerpen yang ditampilkan di blog atau web. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen dengan jumlah kata sebanyak itu sekitar 5-20 menit. Kalau lebih naskah lebih banyak dari itu mendingan dipecah menjadi dua post bersambung atau pengunjung blog keburu jenuh membacanya.
Banyak penulis novel bilang, menulis cerpen nggak mudah. Sama banyaknya dengan penulis cerpen yang bilang, menulis novel itu sulit. Tantangan menulis kedua jenis tulisan tersebut memang berbeda jauh. Meskipun dasar pembuatannya hampir mirip. Menulis cerpen juga membutuhkan dasar-dasar yang sama dengan penulisan novel. Dibutuhkan karakter, plot, alur, latar cerita, dan konflik. Perbedaan paling mencolok adalah novel menceritakan sebagian hidup dari karakter, sementara cerpen menceritakan satu kejadian penting yang dialami si tokoh.
Satu kejadian penting, ini adalah kunci utama membuat cerpen. Fokus ketika membuat cerpen hanya diperlukan di sekitar kejadian itu. Tahu seluruh sejarah hidup tokoh dan seantero kota tempat cerita ditulis itu tidak mutlak diperlukan dalam menulis cerpen (bahkan kadang nggak perlu sama sekali!). Menulis cerita pendek seperti kamu sedang duduk di sebuah halte bus dan melihat sepasang kekasih bertengkar. Hingga akhirnya busmu datang dan cerita itu selesailah. Di situ nggak perlu dijelaskan apa bus yang kamu tunggu, tapi pusatkan cerita yang ditulis kepada pasangan tersebut. Siapa nama pasangan tersebut? Mengapa mereka bertengkar? Pakaian apa yang mereka pakai saat itu? Apa si pria menampar atau malah memeluk? Bagaimana ekspresi si perempuan ketika mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada si pria? Apa saja omongan yang keluar dari mulut mereka berdua?
Dan kamu dapat satu ide yang bisa kamu kembangkan menjadi cerita pendek: pasangan yang bertengkar karena kesibukan (misalnya).
Setelah mendapat ide, fokuslah kepada konflik. Di mana puncak konflik pasangan tersebut? Apakah ternyata si perempuan ikut naik bus bersamamu?
Puncak konflik ini bisa menjadi klimaks sebuah cerpen. Letaknya bisa di awal, tengah, atau akhir cerita—suka-suka penulis aja. Puncak konflik ini juga sering menjadi titik balik cerita—apa yang awalnya kamu kira begini, eh ternyata begitu. Istilah kerennya adalah twist. Dan asiknya dalam cerpen kamu bisa bikin twist yang beda 180 derajat dengan klue awal yang kamu tulis alias membuat sesuatu yang tiba-tiba (biasanya aku pakai ini di flash fiction sih).
Puncak konflik ini mudah dikenali dalam tulisan. Biasanya berupa kalimat pamungkas yang ada di tengah cerita (selain di pembuka dan penutup cerita). Atau adegan yang kemudian membuat si tokoh memikirkan hal yang berbeda dengan yang dia persepsikan di awal cerita.
Biasanya, aku menulis cerpen mulai dari menemukan puncak konflik, lalu baru kubuat benang merah ke awal dan akhir cerita.
- Awal cerita: apa yang memotivasi si karakter bisa mengalami puncak konflik tersebut? Dorongan dari dirinya atau dorongan dari orang lain?
- Anti klimaks (adegan setelah puncak konflik): bagaimana reaksi si karakter setelah mengalami/melewati puncak konflik tersebut?
Sebenarnya dua poin tersebut tergantung bagaimana format ceritanya ya. Nah, yang ini tergantung dengan alur dan POV yang dipilih.
Alur adalah aliran plot (adegan-adegan dalam cerita). Alur bisa mengalir maju mundur, maju terus pantang mundur, mundul (flash back), atau gimana kreatifnya kamu merangkai cerita. Nah, alur ini yang bakal berpengaruh dengan format tulisan kamu, seperti letak puncak konflik.
PoV (Point of view) atau sudut pandang cerita. Sudut pandang yang populer adalah sudut pandang orang pertama tunggal (Aku/Saya) dan sudut pandangan orang ketiga tunggal (Dia atau nama si karakter). Ada juga sudut pandang orang kedua (kamu/kau/engkau), tapi agak jarang digunakan, biasanya sih yang udah mahir PoV 3 atau PoV 1, bakal coba PoV 2 ini.
PoV ini menentukan sikap nanti sebagai penulis cerita. Sebagai ‘Aku’ berarti kamu memosisikan diri sebagai penulis dan tokoh sekaligus. Sebagai ‘Dia’ berarti kamu bisa sebagai pengamat (narrator) atau kamu sebagai si yang tahu segalanya (sampai ke perasaan hati si tokoh juga). ‘Aku’ punya sudut pandang sebatas yang ‘Aku’ ini ketahui, mudahnya apa yang ‘Aku’ ini lihat. Sementara menggunakan ‘Dia’ kamu bisa menceritakan apapun.
Jangan asal memilih sudut pandang, karena nggak semua sudut pandang cocok dengan genre tertentu (sebenarnya ini tergantung kemampuan penulis untuk meramu). Sudut pandang ini dibahas kapan-kapan aja deh ya.
Unsur lain dalam cerpen yang penting adalah karakter dan setting. Karena konflik itu akan hampa tanpa ada karakter yang mengalami. Setting atau latar sendiri bisa jadi sangat penting atau sekedar pelengkap saja, itu tergantung dengan kebutuhan ceritamu. Dua unsur ini perlu dipikirkan dengan baik. Latar seringkali menjadi bagian yang harus membutuhkan sedikit riset agar cerita yang ditulis bisa terasa lengkap.
Memadupadankan unsur-unsur cerita dilakukan menggunakan deskripsi-dialog. Idealnya sih, dalam cerpen kedua bagian tersebut punya proporsi sama besar. Ketika menulis cerpen kuncinya ya deskripsikan apa yang dibutuhkan dalam cerita dan tulis dialog yang diperlukan saja. Deskripsi yang kaya akan membuat pembaca lebih bisa merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Dialog dan deskripsi yang kurang penting justru akan membuat pembaca bosan.
Pemilihan deskripsi atau dialog ini juga diperlukan ketika membuka atau menutup cerpen. Seperti sebuah film, kadang ada film yang dibuka langsung dengan karakter-karakter yang mengobrol atau dibuka dengan serangkaian adegan yang menampilkan latar cerita.
Bagaimana memilih adegan pembuka dan penutup yang baik? Nah, ini memang jadi peer besar untuk semua penulis. Karena untuk bagian yang satu ini nggak mudah dijelaskan dengan teori. Perlu sering latihan menulis dan tentunya membaca untuk tahu seperti apa yang menarik untuk kita.
Jangan terpaku pada: ‘akhir kisah yang bagus adalah yang happy ending.’ Ending yang baik adalah ending yang sesuai dengan cerita yang kamu buat (tidak memaksakan kehendakmu sendiri, makin sering kamu menulis kamu akan luwes menentukan ending, atau malah karaktermu sendiri yang menentukan akhir ceritanya seperti apa—itu kalau kamu sudah tiba di tahap saat kamu kenal betul karakter tokoh dalam tulisanmu.). Ending yang baik adalah ending yang memuaskan baik untuk penulis dan pembaca. Bagaimana bentuk ending yang memuaskan itu? Jawaban ini kamu yang bisa temukan sendiri dengan lagi-lagi banyak berlatih menulis dan menyisihkan waktu untuk membaca.
Good stories are about the choices people make, and the consequences those choices have. Bad stories are about people being moved by the plot. (kutipan ini kuambil dari sini)
Menulis cerpen itu tidaklah sulit dan sangat menyenangkan. Buatku pribadi, menulis cerpen adalah eksplorasi ide-ide baru yang bisa dikembangkan menjadi novel nantinya. Aku sering memperlakukan cerpen-cerpen yang kutulis sebagai bagian dari kisah panjang yang belum kuselesaikan. Kalau kamu sering baca blogku, kamu akan tahu jika banyak cerita yang saling sambung menyambung. Itu bukan kebetulan, tapi memang disengaja.
Aku belajar menulis secara otodidak. Aku berani menulis ini setelah banyak mengamati teman-teman sesama penulis. Jadi, maaf kalau istilahnya kurang nyastra atau bahasanya terlalu semau-gue atau banyak typo. :p
Tulisan ini aku buat sebanyak seribu seratusan kata. Kalau kamu merasa ini terlalu singkat, berarti tulislah cerpen yang lebih panjang dari seribu seratus kata. Kalau merasa terlalu panjang, berarti kamu harus menyelipkan dialog di antaranya.
Semoga tips dariku bisa membantu.
Minggu, 25 November 2012
AllAboutDuaribuDuabelasFKMUnsri :D
Ini dia Fakultas kesehatan masyarakat Univesitas Sriwijaya angkatan 2012 saat kegiatan P2K/PK2/ lebih familiar dengan sebutan ospek kali ya. Perlu diketahui bahwa angkatan 2012 merupakan angkatan dengan jumlah mahasiswa terbanyak sepanjang fakultas ini berdiri bahkan mungkin sejak fakultas ini masih menjadi prodi yang tergabung dalam Fakultas Kedokteran. Angkatan 2012 berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang didominasi oleh daerah sumatera bagian selatan, beberapa asal daerah tempat kami berasal diantaranya Jambi, Sumatra Barat, Medan, Lampung, Bengkulu, Babel, Jawa Barat, Jakarta, Bahkan hingga Ke tanah Papua ( maaf bagi daerah yg belum tersebutkan :D). Asal daerah yang berbeda tidak membuat kami saling mendeskriditkan satu sama lain, disinilah ajang kami untuk bertukar pikiran dalam segala hal bahkan kabar kabarnya telah ada yang terindikasi cinta lokasi hehehhe ( SIAPA DIA ORANG NYA PEMIRSA SEKALIAN? :D ) . Seiring berjalannya waktu diharapkan angkatan 2012 dapat menjadi anggota keluarga yang lebih solid. HIDUP MAHASISWA , HIDUP FKM UNSRI!!, HIDUP 2012!!!
SALAM SEHAT !!
Jumat, 23 November 2012
Bermula Dari Sini
bermula di gedung inilah kami mendapatkan pengalaman yang sangat berharga yang tidak mungkin kami lupakan hingga hari tua nanti. Segala sesuatu hal kami rasakan bersama selama tiga tahun dengan naungan satu atap grha siswa sma TT sehingga memperkuat tali ukhuwah kami menjadi sebuah untaian rantai yang sulit terpisahkan. Di gedung ini aku mendapat banyak pelajaran kawan, yang mungkin tidak bisa aku dapatkan di tempat lain. Andaikan waktu bisa ku putar aku ingin merasakan sebentar atmosfer masa lalu yang terkadang kalau difikir begitu lucu, dengan seribu aturan senioritas, dan sejuta aturan sekolah yang terkadang sedikit memberatkan. Hingga akhirnya waktu jualah yang menjawab dan mengakhiri cerita kita di gedung ini, perlu diingat bahwasannya kita mempunyai tujuan hidup masing masing yang telah digariskan Allah kawan, maka gapailah cita-cita mu setinggi langit .
Langganan:
Postingan (Atom)


